SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

Kemudian Imam as menanyakan tentang kitab “Asy’iya” kepadanya dan kepada Raksul Jalut: Imam berkata: Saya mengetahui dengan baik tentang kitab ini. Imam as berkata: Anda ingat tentang kalimat ini dimana Asy’iya berkata: Saya melihat seseorang yang menunggang binatang yang bertelinga panjang dan mengenakan pakaian dari cahaya (Isyarah kepada hadhrat Mashih) dan saya melihat seseorang yang menunggang unta dan cahayanya laksana cahaya rembulan (Isyarah kepada nabi Islam saww). Mereka berkata: Ya, Asy’iya berkata demikian.

Imam as: Wahai orang Nashara, anda ingat kata-kata al Mashih di dalam Injil yang mengatakan: Saya akan pergi menghadap Tuhanku dan Tuhan kalian dan (Barqalitha) akan datang dan ia akan bersaksi dengan benar tentang diriku (sebagaimana aku telah bersaksi tentang dirinya). Dan ia akan menafsirkan segala sesuatu kepada kalian?

Jatsiliq: Kami mengakui apa-apa yang telah anda katakan tentang Injil.

Kemudian Imam bertanya lagi tentang Injil dan tentang lenyapnya injil pertama dan kemudia membicarakan ditulisnya kembali injil itu oleh empat orang: Marqus, Luqa, Yuhanna dan Matta. Dimana mereka masing-masing duduk dan menulis Injil (Injil-Injil yang berada sekarang. Dan berada ditangan-tangan orang-orang masehi (kresten)). Dan menanyakan kontradisi-kontradiksi yang berada di dalam ucapan Jatsiliq.

Jatsiliq mati kutu secara total sedemikian rupa sehingga tidak ada jalan untuk berkelit. Oleh karena itu, ketika Imam as untuk kesekian kalinya berkata kepadanya: Wahai Jatsiliq, tanyakanlah apa saja yang anda kehendaki. Dia tidak bertanya tentang apapun dan berkata: Kini orang lain selain diriku yang bertanya. Saya bersumpah demi kebenara al-Mashih, saya tidak mengira dikalangan orang-orang muslim ada seseorang seperti diri anda.

 

[1] – Kisah ini dinukil sebagai berikut: Zubaidah sedang bermain catur dengan Harun al Rasyid. Karena Rasyid kalah dalam permainan tersebut, maka Zubaidah menghukumnya bahwa ia harus meniduri budak terjelek di dapurnya. Rasyid yang sangat tidak menyukai hukuman tersebut bersedia memberikan seluruh pajak dari Mesir dan Iraq kepada Zubaidah, supaya ia mengurungkan terlaksananya hukuman tersebut bagi Harun. Namun Zubaidah tidak menerinya. Harun terpaksa mencari Marojil yang memenuhi seluruh ciri-ciri yang menjijikkan untuk ditidurinya. Maka lahirlah Makmun (Damiri, Hayatul hewan, Qahirah, Maktabah al Tijarah al Kubra, 1383 hijriah Syamsyiah).

BACA JUGA:  Kisah Sang Pecinta Masjid Gohar Shad

Kisah ini tidak bertentangan dengan apa yang telah dikatakan bahwa Makmun dilahirkan pada malam dimana Rasyid menduduki kursi kekhalifahan. Karena para putra mahkota sebelum mencapai dan menduduki kursi kehalifahan juga memiliki ihtiyar dan kekuasaan yang paling besar. Misalnya Rasyid sendiri membagi seluruh negaranya diantara tiga anaknya (Murthadha al Husaini, Saiyid Jakfar, Zendegi siasi hasytumin Imam, Terjehan DR Saiyid Khalil Khaliliyan, cetakan ke empat, Tehran, Daftar Nasyr-e Farhang-e Islami, 1365 hijriah Syamsyiah, hal 97).

[2] – Jatsiliq (dengan kasrah (ث) dan (ل) adalah lafazh Yunani yang bermakna ketua Usquf dan pemimpin pengikut Isa. Sebuah julukan yang diberikan kepada ulama besar Nashrani dan bukan nama khusus (al-Munjid).

[3] – Ra’sul Jalut adalah julukan untuk para cendekiawan dan tokoh-tokoh bangsa Yahudi (lafazh ini juga bukan nama Khusus).

[4] – Hariz Akbar atau Hirbad Akbar adalah julukan khusus untuk tokoh-tokoh Zartusyt yang bermakna pemimpin besar madzhab dan hakim Zartusyt dan Hadimnya tempat ibadah Zartusyt.

[5] – ‘Imran Shabii, sebagaimana nampak dari namanyaia adalah pembela madzhab Shabi’in. Shabi’in adalah suatu kelompok yang menamakan dirinya pengikut nabi Yahya, namun mereka terbagi menjadi dua kelompok Muwahid dan Musyrik.

Satu kelompok dari mereka menjadi penyembah bintang. Oleh karena itu mereka yang menamakan diri sebagai penyembah bintang, pusat mereka dulunya di kota harran di Iraq. Kemudian berhijrah ke wilayah lain di Iraq dan Khuzesytan. Mereka sesuai dengan akidah dan keyakinannya kebanyakan hidup di pinggir sungai-sungai besar. Dan kini sekelompok dari mereka berada di Ahwaz dan sebagian di tempat-tempat lain.

[6] – ‘Imran Muruzi adalah ulama Ilmu Kalam yang paling ternama di seluruh Khurasan pada masa Makmun. Dan Makmun sangat menghormatinya.

BACA JUGA:  HARI LAHIR RASULULLAH SAWW

[7] – Ali bin Muhammad bin Jahim, adalah seorang Nashibi dan musuh Ahlulbait as. Syekh Shaduq menukil sebuah riwayat dari Ali bin Muhammad bin Jahim, dimana dari hadist tersebut menunjukkan bahwa ia membahas tentang imam Ridha as. Kemudian di bawah hadits tersebut tercamtum tulisan: Ini adalah hadits Gharib melalui Ali bin Muhammad bin Jihim dengan kekerasannya, kebenciannya dan permusuhannya dengan Ahlulbait as (‘Uyun akhbaru al-Ridha, Tehran, Darul Islamiyah, thn 1377, jilid1, hal 204). Penulis kitab Jami’u al-Ruwaat, juga menjelaskan masalah ini di dalam biografinya. (Jami’u Ruwaat diterbitkan oleh maktab (perpustakaan) ayatullah Mar’asyi Najafi, Qom, 1403, jilid 1, hal 596-597.

[i] Sawiq adalah minuman khusu yang terbuat dari Tepung.

Diterjemahkan dari kitab SIREH-E PISYWAYAN, karya MAHDI PISYWAI, hal 267-526

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra