TERAGEDI KESYAHIDAN HADHRAT FATHIMAH AS

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على محمد وآل محمد و عجل فرجهم

1 – UNGKAPAN KESEDIHAN DAN KASIH SAYANG IMAM ALI AS KEPADA HADHRAT FATHIMAH AS

Hadhrat Fathimah as syahid setelah wafatnya Rasulullah saw, pada hari selasa tanggal 3 Jumadil Akhir tahun 11 Hijriah,[1] hal ini diriwayatkan oleh Allamah Thabarsi yang dinukil dari imam Shadiq as.

Di dalam kitab Raudhatul Wa’izhin (ibnu Fattal Nisyaburi) dan yang lainnya meriwayatkan: Hadhrat Fathimah mengalami sakit keras, selama empat puluh hari, beliau menderita sakit sehingga syahid. Ketika beliau merasakan bahwa ajalnya sudah dekat, beliau memanggil Ummu Aiman (pembantunya yang mukhlis dan memiliki maqom yang tinggi) dan Asma’ putri Umais.[2] Kemudian mereka diperintahkan untuk memanggil imam Ali as. Imam Ali as begitu mendengar pesan hadhrat Fathimah as segera mendatanginya. Hadhrat Fathimah berkata kepadanya: “Wahai putra paman, saya merasa tak lama lagi akan meninggalkan dunia ini. Dan setiap saat saya menunggu pertemuanku dengan ayahku. Ada beberapa hal di dalam hatiku, dan aku ingin mewasiatkannya kepadamu.”

Imam Ali as berkata kepadanya: “Wahai putri Rasulullah saw, berwasiatlah kepadaku apa saja yang engkau kehendaki.” Kemudian imam Ali as duduk di samping kepala hadhrat Fathimah as, dan imam Ali as mengirim keluar semua orang yang berada di dalam rumah.

Hadhrat Fathimah as berkata: Wahai putra paman, anda tidak pernah melihatku berbohong dan tidak pernah berhianat kepadamu dan sejak aku menikah denganmu, anda tidak pernah melihatku menentangmu.”

Imam Ali as menjawab: “Tidak sama sekali… Semoga Tuhan melindungimu. Anda lebih mengenal dan tahu Allah, lebih baik dan lebih suci, lebih takwa, lebih mulia dan lebih takut kepada Allah. Aku mencelamu karena engkau menentangku, karena berpisah denganmu sangatlah berat dan susah bagiku. Namun kematian adalah suatu kepastian dimana setiap orang harus menerimanya. Demi Tuhan anda memperbarui Musibah menyedihkan karena kepergian Rasulullah saw. Musibah kematian dan kepergianmu bagiku sangatlah besar dan berat. Dalam musibah yang sangat menyakitkan dan sangat besar ini harus ku ucapkan “Innalillahi wa Inna ilaihi roji’un.” Demi Tuhan musibah ini tidak memiliki ungkapan bela sungkawa, musibah ini adalah bencana dan malapetaka dan tidak bisa diganti.”

BACA JUGA:  KISAH KELAHIRAN IMAM HUSEIN AS

2 – WASIAT HADHRAT ZAHRA AS

Kemudian untuk beberapa lama imam Ali as dan hadhrat Fathimah as menangis bersama. Dan imam Ali as menganngkat kepala hadhrat Fathimah ke dadanya. Kemudian berkata: “Sekarang sampaikan kepadaku apa-apa yang hendak anda wasiatkan. Aku akan melakukan sesuai dengan apa yang engkau kehendaki.  Dan aku akan mendahulukan dan mengutamakan perintahmu dari urusan-urusanku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra