SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

Bisa diyakini bahwa mereka tidak ada niat baik di dalam pekerjaan-pekerjaan mereka. Sebagian dari mereka membuat air keruh dan mengambil ikan didalamnya. Dari pasar yang sedang hit dan panas itu, mereka memasukkan ilmu-ilmu dan pengetahuan asing ke dalam lingkungan Islam. Mereka memperoleh kesempatan untuk memasarkan keyakinan-keyakinan mereka yang sesat dan beracun. Karena alasan inilah kepercayaan-kepercayaan khurafat, pemikiran-pemikiran sesat dan tidak islami mendapatkan jalan masuk ke dalam tubuh Islam melalui buku-buku yang secara lahiriah merupakan buku-buku ilmiah. Dan dengan cepat mempengaruhi pemikiran sekelompok anak-anak muda dan orang-orang yang berpikiran sederhana dan lugu.

Jelas pada masa itu di dalam istanah bani Abbas tidak terdapat tim ilmiah yang kuat yang memiliki sifat takwa dan prihatin yang mampu menganalisa karya-karya ilmiah asing itu dengan teliti dan seksama. Dan melewatkannya dari kejernihan pandangan dunia Islam yang murni. Mengambil dan mengenyampingkan penyakit-pengakit dan semua yang tidak murni. Dan hanya murni dan bersih serta jernih yang dipersembahkan kepada masyarakat Islam.

Yang penting di sini adalah keadaan pemikiran dan budaya yang khas ini merupakan tanggung jawab yang berat di pundak Imam Ali bin Musa al-Ridha as. Dan Imam Ridha as yang hidup pada masa itu menyadari dengan baik situasi yang membahayakan itu. Imam menyingsingkan lengan dan menciptakan sebuah revolusi pemikiran yang dalam. Dan menjaga kemurnian akidah dan budaya masyarakat Islam di hadapan gelombang yang besar yang disertai angin kencang yang sangat berbaha. Dan pada akhirnya perahu tersebut dengan bimbingan dan kebijakannya telah diselamatkan dari  keterperosokan ke dalam putaran angin khurafat menyesatkan dan sangat berbahaya.

Pentingnya masalah ini akan lebih jelas ketika kita mengetahui luasnya wilayah pemerintahan Islam pada jaman Harun dan Makmun telah mencapai puncaknya. Sedemikian luasnya sehingga para ahli sejarah ternama menjelaskan bahwa tak ada jaman dan masa yang memiliki keluasan pemerintahan semacam itu. (yang hanya bisa dibandingkan dengan luasnya negara Iskandiriah besar).

BACA JUGA:  SELAMAT ATAS HARI LAHIR IMAM HASAN MUJTABA AS

Pada masa itu negara-negara dibawah ini berada di bawah pemerintahan Islam:

Iran, Afganistan, Send (Timur India), Turkistan, Qafqas, Turki, Iraq, Suria, Palestina, Hijaz, Sudan, Aljazair, Tunisia, Maroko, Spanyol (Andalos). Dengan demikian luas negara-negara Islam pada masa pemerintahan Bani Abbas tanpa menghitung Spanyol setara dengan luas seluruh benua eropa bahkan lebih.

Lumrah jika budaya masa lalu negara-negara tersebut berpengaruh kepada budaya di pusat Islam. Pengaruh tersebut menjadi penyebab bercampur aduknya budaya-budaya asing itu dengan budaya Islam yang murni.

TUJUAN ASLI MAKMUN DALAM MENGADAKAN MAJLIS DIALOG

Makmun setelah memaksakan kedudukan putra mahkota kepada imam Ali bin Musa al Ridha as mengadakan sebuah majlis dialog besar-besar di Khurasan, dan mengundang pembesar-pembesar dan ulama terkemuka pada masa itu baik dari kalangan umat Islam dan non Islam. Tak diragukan bahwa tujuan lahiriah undangan itu adalah untuk membuktikan ketinggian maqom Imam as di dalam segala bidang ilmu pengetahuan dan alirang-aliran Islam. Namun dibalik tujuan lahiriah itu terdapat tujuan terselubung lain yang menjadi pembicaraan diantara para peneliti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra