MOHON DIRENUNGKAN

MOHON DIRENUNGKAN

بسم الله الرحمن الرحيم

اللهم صل على محمد و آل محمد و عجل فرجهم

Haji Syekh Abdul Karim Haeri (Penderi dan ketua pesantren Qom dari tahun 1301 sampai 1315). Beliau adalah salah seorang murid almarhum Mirza Bozorg Syirazi di Samara’. Suatu hari beliau pergi berziarah kepada Amirul Mukminin Ali as di Najaf, di Haram (makam), ia berkata kepada Amirul Mukminin as: “Tuanku! Kami akan Kembali ke Qom Iran. Dan Kami mengetahui, jika kami Kembali, gelombang para muqallid (yang bertaklid) dan orang-orang yang merujuk menanyakan masalah-masalah syar’i, akan berdatangan kepada kami. Maula dan junjunganku! Perkenalkanlah kepada kami seorang teladan yang akan menjadi contoh dan suri tauladan bagi kami di masa yang akan datang sehingga sambutan dunia, kemarjaan, kehormatan, kekayaan, kepemimpinan tidak membuat kami terlena dan lengah.

Haji Syekh Abdul Karim Haeri menetap di kota Najaf selama tiga bulan, siang dan malam Ketika beliau pergi berziarah kepada Amirul Mukminin Ali as, hajat ini pula yang diminta. Beliau juga tinggal di Karbala selama tiga bulan, jadi secara keseluruhan beliau tinggal selama enam bulan.

Beliau sudah hampir putus asa, imam Husein as tidak menganggap maslahat untuk memperkenalkan seseorang sebagai teladan. Malam itu beliau keluar dari haram (makam imam Husein as) dengan hati yang sedih dan menuju ke rumah dimana beliau tinggal selama ini. Malam itu beliau tidur dan dalam tidurnya beliau melihat Saiyidu Syuhada imam Husein as. Imam berkata: “Syekh Abdul Karim, Anda minta diperkenalkan seorang yang sempurna dan mulia untuk dijadikan contoh dan teladan kepada kami? Syekh menjawab: “Ya wahai junjunganku.”

Imam berkata: “Besok pagi datanglah ke haram Kami, menjelang terbit fajar anda akan melihat seorang pemuda berusia 18 tahun sedang duduk di makam Habib ibnu Mazhahir Asadi. Ia memakai serban Karbasi dan aba’ah Karbasi dan juga kemeja Karbasi. Begitu anda masuk, anak muda itu akan bangkit, dan memasuki haram. Ia akan memberi salam kepadaku dari arah kaki, dan memberi salam kepada Ali Akbar dan memberi salam kepada seluruh Syuhada’. Kemudian ia akan keluar dari haram setelah terbit fajar. Temuilah pemuda ini. Ia adalah salah seorang yang besar.”

BACA JUGA:  KISAH MASJID IMAM HASAN MUJTABA as

Haji Syekh mengatakan: “Saya terbangun dari tidur, terbit fajar dan waktunya untuk pergi keharam. Dimakam Habib Ibnu Mazhahir saya melihat sosok yang diceritakan oleh imam Husein dalam mimpi, sedang duduk. Saya masuk dan ia berdiri dan menuju ke pintu haram dan mengucapkan salam kepada Syaiyidu Syuhada’ as, satu salam kepada Ali Akbar dan memberi satu salam kepada seluruh Syuhada, kemudia ia keluar dari haram dan menuju ke balkon dan dari sana ia pergi kehalaman. Saya lari mengejarnya, di halaman saya memanggilnya. Tuan, berhentilah saya ada perlu dengan anda. Ia membalikkan badan dan memandangi saya, kemudian berkata: “Tuan, Serbanku adalah pinjaman.” Dan pergi. Ia pergi meninggalkan halaman haram dan menelusuri Lorong-lorong kota karbala. Saya berlari mengejarnya dan berkata: “Tuan saya punya permohonan. Berhentilah saya miliki pertanyaan.” Ia membalikkan badannya sambal berjalan dan berkata: “Tuan, aba’ahku juga pinjaman.” Dan pergi.

Haji Syekh Abdul Karim Haeri berkata: “Aku merasa aku akan kehilangan dia, hasil enam bulan jerih payah di rumah dua Imam akan berlalu dengan dua kalimat ini dan hilang. Aku berlari dan menghampirinya. Aku memegang tangannya dan berkata: “Berhentilah. Apa maksud anda, aba’ahku adalah pinjaman dan serbanku adalah pinjaman?” Saya memohon selama enam bulan supaya anda diperkenalkan kepadaku. Saya ada perlu dengan anda.

Ia memandangi Syekh dan berkata: “Siapa yang telah memperkenalkan diriku kepada anda?”

Syekh Abdul Karim berkata: “Pemilik makam ini yaitu hadhrat Saiyidu Syuhada’.

Pemuda itu bertanya kepada Syekh Abdul Karim: “Hari ini tanggal berapa?”

Syekh Abdul Karim menyebutkan hari.”

Anak Muda: “Ikutlah denganku.”

One Comment

  1. MasyaAllah.. Allahummashallialamuhammad..waalimuhammad.. yaAllah hidayahilah kami.. sehingga kami benar” tidak terikat akan semua pinjamanmu yang berifat sementar ya allah..🤲🏻🤲🏻 sungguh, diri hina ini sering lalai menganggap semua kenikmatan itu adalah untuk kami dan mulai goyah.. padahal itu hanya pinjaman😔

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra