SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

Hari Senin tanggal tujuh Ramadhan pernyataan pengangkatan putra mahkota ditulis  dengan tulisan Makmun sendiri dan dibalik kertas tersebut imam Ridha as juga dengan menyebutkan beberapa mukadimah yang penuh dengan isyarah mengumumkan penerimaannya. Akan tetapi imam mengingatkan bahwa hal ini tidak akan pernah terlaksana. Kemudian di samping tulisan tersebut seluruh pembesar dan pejabat negara dan kemiliteran seperti Yahya bin Aktsam, Abdullah bin Thahir, Fadhl bin Sahl, menandatangani surat pernyataan ini.

Kemudian pengambilan baiat dilaksanakan secara formal dengan perayaan yang meriah pada hari kamis tanggal sepuluh. Dan Imam Ridha duduk di kursi putra mahkota. Orang pertama yang berbaiat kepada Imam atas perintah Makmun adalah “Abbas” putra Makmun. Dan setelah itu Fadhl bin Sahl (perdana mentri), Yahya bin Aktsam (bagian fstwa) kerajaan, Abdullah Thahir (pemimpin tertinggi militer) dan kemudian seluruh keluarga dan tokoh-tokoh bani Abbas yang hadir berbaiat kepada imam Ridha as.

Masalah kedudukan putra mahkota merupakan berita bahagia dan menggembirakan bagi pecinta dan syiah-syiah Imam as. Tetapi bagi Imam sendiri merupakah hal yang sangat-sangat menyedihkan dan mengenaskan. Ketika imam melihat seorang laki-laki yang menunjukkan perasaan sangat bahagia, Imam as memanggilnya dan berkata kepadanya: “Jangan menaruk hati pada masalah ini dan jangan berbahagia dengan hal ini, karena urusan ini tidak akan bertahan lama”.

ALASAN IMAM AS DALAM MENERIMA KEDUDUKAN PUTRA MAHKOTA

Ketika imam Ridha as menerima kedudukan putra mahkota Makmun, beliau melihat jika Imam as menolaknya, bukan hanya nyawanya yang akan melayang dengan Cuma-Cuma melainkan nyawa semua keturunan Ali as dan seluruh para pecintanya juga akan berada dalam bahaya.

Oleh karena iitu sudah menjadi keharusan bagi Imam as untuk menjaga nyawanya sendiri dan nyawa para pengikut serta nyawa para pendukungnya. Karena Ummat Islam sangat membutuhkan keberadaan mereka dan penjelasan mereka. Mereka harus tetap ada supaya menjadi lampu penerang bagi masyarakat dan pemimpin dan penunjuk jalan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan dan serangan-serangan yang penuh kerancuan.

BACA JUGA:  KISAH MASJID JAMKARON

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra