SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

1 – Satu kelompok berpadangan buruk terhadap masalah ini -Mereka layak untuk berprasangka buruk- Karena dasar dan asas dalam menafsirkan siasat, tingkah dan perilaku para penguasa penindas adalah diburuk sangkai. Mereka mengatakan: Di dalam benak mereka Makmun tidak punya tujuan lain selain bahwa, ia bermaksud menurunkan dan menjatuhkan maqom Imam as yang sangat ditunggu-tunggu dan dinantikan masyarakat khususnya rakyat Iran yang sangat mencintai Ahlulbait yang makshum as. Ia mengira bahwa Imam as hanyalah menguasai masalah-masalah sederhana dari al Qur’an dan Hadits dan tidak menguasai ilmu-ilmu berdalil dan akli.

Kelompok ini untuk membuktikan penyataannya berdalil dengan ucapam Makmun sendiri yang terdapat di dalam naskah-naskan Islam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Naufeli salah satu sahabat dekat Imam as yang mengatakan:

Sulaiman Muruzi seorang ulama Kalam ternama mendatangi Makmun di perbatasan Khurasan. Makmun sangat menghormatinya dan menjamunya dengan hidangan-hidangan yang lezat. Kemudian ia berkata:

Putra pamanku Ali bin Musa as dari Hijaz datang kepadaku. Dan ia menyukai ilmu Kalam (teologi) dan para ulama-ulama ilmu ini. Kalau anda berkenan datanglah kepada kami pada hari Tarwiyah (hari kedelapan dzul Hijjah) dan berdialog serta berdiskusilah dengannya.

Sulaiman yang sanggat membanggakan ilmunya, berkata: Ya Amirul mukminin, saya tidak suka bertanya kepada orang seperti dia di majlismu di hadapan sekelompok bani Hasyim. Saya hawatir ia tidak mampu menjawab dan posisinya akan jatuh. Saya tidak bisa terlalu banyak membahas dengan orang seperti dia.

Makmun berkata: Tujuanku memang tak lain dari itu. Tutuplah jalannya. Karena saya tahu anda mahir dalam ilmu dan dialog.

Sulaiman berkata: Kini, jika demikian halnya, tidak masalah undanglah aku dan dia di dalam majlismu karena aku tidak akan dicela setelah itu.

BACA JUGA:  KEUTAMAAN AMIRUL MUKMININ ALI as

(Dialog itu dilaksanakan sesuai dengan rencana di waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan Imam as membuat Sulaiman terjepit dan tersudut dan menutup seluruh jalan untuk menjawab dan menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuannya)

Saksi yang lain adalah sebuah hadits yang dinukil dari Imam Ali bin Musa al-Ridha as sendiri. Ketika Makmun mengadakan majlis diskusi dan dialog dan dia sendiri duduk dan berdialog menghadapi para penentang Ahlulbait as dan membuktikan keimamahan Amirul Mukminin Ali as dan menjelaskan keutamaannya atas semua shahabat kepada semua yang hadir, tujuannya adalah untuk mendekatkan diri kepada imam Ali bin Musa al-Ridha as. Dan Imam as berkata kepada salah seorang dari shahabatnya yang bisa dipercaya sebagai berikut:

“Jangan tertipu oleh ucapannya. Demi Tuhan tidak orang yang akan membunuhku selain dirinya. Namun aku tidak ada pilihan selain bersabar sampai berakhir masa hidupku”.

Tentu Makmun layak membela keutamaan Amirul Mukminin Ali as sedemikian rupa karena slogan-slogan pertama mendirikan pemerintahan Bani Abbas adalah “Al Ridha Min Aali Muhammad” dan berkat slogan itu mereka berhasil memenangkan pertikaian. Dari sisi lain tiang-tiang di dalam tubuh militer dan orang-orang dipemerintahannya terdiri dari orang-orang Iran pecinta Ahlulbait as. Dan untuk mempertahankan mereka ia tidak ada pilihan lain selain hal ini.

Apapun adanya ungkapan Imam as di dalam hadits di atas menjelaskan dengan baik bahwa Makmun di dalam program-programnya dalam mengadakan majlis-majlis diskusi dan dialog tidak jujur. Sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Shalth (pembantu imam Ridha as) dalam masalah ini. Dimana dia mengatakan:

“…. Imam as semakin dicintai masyarakat karena keutamaan dan kesempurnaan maknawinya. Makmun berencana mengundang seluruh ulama ilmu Kalam dari berbagai negara untuk berdiskusi dan berdialog dengan Imam dengan tujuan untuk memojokkan Imam  as dengan demikian akan menjatuhkan maqomnya di pandangan para ulama dan cendekiawan begitu juga umumnya masyarakat akan mengetahui kekurangannya. Namun Imam as menjatuhkan seluruh lawan-lawan dialognya yang terdiri dari orang-orang Yahudi, Masihi (kresten) Zartusyt, Brahmana, Shabei, yang tidak percaya Tuhan dan lain sebagainya…”

BACA JUGA:  PERISTIWA KELAHIRAN AGUNG ALI AS DI DALAM KA’BAH

Yang menarik perhatian adalah istana Makmun senantiasa menjadi tempat terlaksananya dialog dan diskusi-diskusi semacam ini. Namun setalah kesyahidan Imam as majlis-majlis ilmiah dan pembahasan kalami tidak terlihat jejaknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra