SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

Di dalam sejarah dikatakan bahwa pada suatu malam Makmun bermimpi bertemu Aristoteles seorang filosuf terkenal Yunani. Ia menanyakan satu masalah kepada Makmun, karena terbangun dari tidurnya, ia berpikiran akan menerjemahkan buku-buku filosuf itu. Makmun menulis surat kepada raja Rumawi dan ia meminta supaya dikirimkan kumpulan ilmu-ilmu lama yang berada di negeri Rum untuknya. Raja rum menerima permintaan tersebut setelah berbincang-bincang cukup lama.

Makmun menugaskan sekelompok cendekiawan seperti “Hajaj bin Mathar” dan “Ibnu Bathriq” dan “Sulma” pengurus “Baitul Hikmah” (sebuah perpustakaan besar dan ternama di Baghdad) untuk mengerjakan pekerjaan tersebut.

Mereka mengumpulkan dan mengirimkan kepada Makmun segala sesuatu yang mereka temukan dan mereka senangi di negeri Rum. Dan Makmun memerintahkan untuk menerjemahkannya.

Tidak diragukan bahwa mimpi-mimpi para pemain politik seperti Makmun bukan pekerjaan yang mudah. Dan bisa dipastikan mengandung polotik.

Mereka melihat beberapa masalah di dalam mimpi-mimpi tersebut dimana akan memperkuat landasan dan tonggak-tonggak kerajaannya. Dan apapun adanya, perbuatan Makmun ini di dalam analisa polotik memiliki beberapa kemungkinan. Diantaranya adalah:

1 – Makmun melakukan hal ini supaya dinilai sebagai seorang muslim yang cinta ilmu pengetahuan.

2 – Dengan ini ia hendak menciptakan sebuah hiburan bagi masyarakat dan mengalihkan pikiran masyarakat yang sedang berada dalam kesulitan sosial dan tekanan politik.

3 – Tujuannya adalah untuk menarik perhatian para cendekiawan dan para pemikir muslim pada dirinya. Dan pada akhirnya untuk memperkuat tonggak-tonggak pemerintahannya.

4 – Ia ingin membuka sebuah warung sebagai saingan bagi hauzah ilmiah Ahlulbait Nabi saww dimana didalam ilmu pengetahuan mereka  berada dipuncaknya dan dengan itu para pembeli dan peminat hauzah ilmiah itu berkurang dan cahanya meredup.

BACA JUGA:  KISAH MASJID IMAM HASAN MUJTABA as

5 – Ia ingin membuktikan bahwa para pejabat bani Abbas memiliki kelayakan untuk memerintah negara-negara seperti Iran dan Rum serta Mesir.

Tentu diantara kelima kemungkinan di atas tidak ada yang bertentangan. Bisa jadi semua itu merupakan tujuan Makmun. Namun apapun tujuannya, dalam masalah ini tidak diragukan bahwa dia berusaha keras dalam menerjemahkan buku-buku Yunani itu dan telah mengeluarkan biaya yang sangat besar.

PERAN IMAM RIDHA AS DALAM MENGHADAPI GELOMBANG PEMIKIRAN ASING

Namun dengan semua upaya ilmiah ini, yang menghawatirkan adalah di antara para penerjemah tersebut terdapat sosok-sosok dan individu-individu fanatik dan keras dari aliran-aliran dan kepercayaan lain seperti Zartusyti, para pengikut aliran Shabiiah, Nasthury, orang-orang Rum dan Brahma dari India. Mereka menerjamahkan karya-karya ilmiyah dari bahasa Yunani, Parsi, Siryani, Urdu, Latin, dan lain sebagainya ke dalam bahasa Arab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra