NABI ISMAIL AS

NABI ISMAIL AS

Ismail perlahan-lahan tumbuh besar di sisi ibunya, Pengembara dari kabilah Jurhum dan yang lainnya sangat menghormatinya. Dan diantara mereka tak seorang pemudapun yang memiliki ketampanan dan kesempurnaan Ismail, diantara mereka beliau adalah cendra mata dan penerang bagi semua. Yang menarik perhatian adalah karena telah mendapatkan mata air ZamZam dan lain sebagainya, kabilah Jurhum bersedia memenuhi kebutuhan hidup Ismail, namun Ismail tidak menerima tawaran tersebut. Melainkan beliau sendiri mencari pekerjaan. Kadang kala dengan mengembalakan binatang, kadang dengan berburu. Ismail memenuhi kebutuhan hidupnya yang sederhana bersama ibunya. Sama sekali ia tidak bersedia menggantungkan diri dan melirik kepada belas kasih orang lain.

Hidupnya sangat manis bersama ibunya. Khususnya ketika sesekali nabi Ibrahim menjumpai mereka, hidup merekapun semakin terasa semakin manis. Keberadaan tiga orang ini di samping mata air Zam Zam yang jernih dan segar, dan mereka mencuci tangan dan wajah mereka, memiliki nuansa yang lain. Nuansa yang secara lahir dan batin tidak bisa dirasakan dan didapatkan oleh orang lain.

Namun tak seberapa lama ibu Ismail yang penuh kasih itu yaitu siti Hajar. Wanita yang menderita namun penuh welas asih ini telah menjadi semakin tua. Keriput-keriput di wajahnya mengisahkan derita yang menguras tenaga telah menjumpai Tuhannya dan Ismail telah kehilangan satu-satunya teman berbaginya, pelipur laranya di malam dan siang hari.[7]

Sungguh sangat memilukan hati menyaksikan seorang ibu meninggal disamping satu-satunya putra dan cendara matanya. Hubungan yang penuh kasih itu telah berubah menjadi sebuah perpisahan. Namun apa boleh buat. Inilah pekerjaan dunia fana ini yaitu senantiasa memisahkan orang-orang dari yang dikasihinya. Dan begitu manusia hendak bebenah dan memperbaiki keadaannya, telah dihadapkan dengan derita dan kepahitan yang lain.

BACA JUGA:  IMAM ALI AS DAN PENDETA NASHRANI

Kabilah Jurhun dan ‘Amaliqah meninggalkannya seorang diri. Dengan pilihannya sendiri Ismail mengambil seorang istri dan menikah dengan sorang gadis bernama “Samah”. Nabi Ibrahin as untuk kesekian kalinya meninggalkan Palestina menuju Mekah untuk mengunjungi anak mudanya. Dengan menunggang keledai lelah dan rasa penat perjalanan, debu-debu bersemayam di wajah dan tubuhnya. Beliau berkata kepada dirinya sendiri. Semua rasa lelah dan derita perjalanan akan lenyap dengan sendirinya begitu berjumpa dengan Hajar dan Ismail. Namun kali ini ketika nabi Ibrahim sudah mendekat siti Hajar tidak lagi datang menyambutnya. Perlahan-lahan nabi Ibrahim melangkah maju namun siti Hajar tidak kunjung datang menyambutnya. Beliau melangkah mendekati rumah dan nabi Ibrahim berjumpa dengan seorang wanita dan ia adalah istri Ismail. Setelah menanyakan keadaan nabi Ibrahim akhirnya mengetahui bahwa siti Hajar telah meninggal dunia. Dada nabi Ibrahim berdetak keras. Karena mengenang kebaikan-kebaikan siti Hajar air matanyapun mengalir. Dan berpasrah diri kepada Allah swt atas musibah yang telah menimpanya.

Kemudia nabi Ibrahim bertanya kepada istri Ismail: Suamimu Ismail dimana?

Istri Ismail menjawab: Suamiku pergi berburu.

Nabi Ibrahim bertanya: Bagaimana keadaanmu?

Istri Ismail menjawab: Sangat buruk.

Wanita yang tak layak ini sama sekali tidak menghormati Ibrahin as yang baru sampai dari perjalanan. Bahkan dengan jawaban-jawabannya yang tak sopan telah membuat sedih hati nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim setiap kali datang ke tempat tersebut berjumpa dengan siti Hajar yang baik dan lembut, seorang Hajar yang telah menjadi mitra dalam suka dan duka bagi suami. Kali ini ia berhadapan dengan wanita yang tidak memiliki sopan santun. Seorang wanita yang tidak mencium bau kesempurnaan maknawi insani, harga dan nilai siti Hajar semakin terasa. Namun apa boleh buat, peristiwa-peristiwa semacam ini akan banyak terlihat di dunia ini.

BACA JUGA:  KEUTAMAAN AMIRUL MUKMININ ALI as

NASIHAT NABI IBRAHIM AS DALAM MEMILIH ISTRI YANG LAYAK DAN SESUAI

Nabi Ibrahim berkata kepada Samah (Istri Ismail): Ketika suamimu kembali dari berburu, katakan kepadanya telah datang seorang laki-laki tua dengan wajah dan ciri-ciri demikian. Setelah menanyakan keadaan pada saat kembali ia berkata: “Rubahlah pintu rumahmu”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra