NABI ISMAIL AS

NABI ISMAIL AS

Bertahun-tahun telah berlalu, sedangkan nabi Ibrahim sudah semakin tua, tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Sebabnya adalah istrinya yaitu siti Sarah tidak bisa mengandung. Suatu hari Nabi Ibrahim mengusulkan kepada siti Sarah sebagai berikut: “Jika kamu setuju dan tidak keberatan, juallah budakmu Hajar kepadaku. Mungkin Tuhan akan menganugerahi kita keturunan melaluinya yang akan menghidupkan dan meneruskan jalan kita setelah kita nanti”.

Siti Sarah menerima usulan suaminya. Oleh karena itu ia menikahkan Hajar dengan nabi Ibrahim as. Dan setelah beberapa lama nabi Ibrahim memiliki putra dan diberi nama Ismail as. Ismail adalah seorang anak yang sabar sesuai dengan permohonan nabi Ibrahim kepada Allah swt. Dan Allah swt memberikan berita gembira (bisyarah) itu kepada nabi Ibrahim as.

Dengan kehadiran sang putra, kehidupan nabi Ibrahim menjadi semakin indah dan penuh keceriaan. Karena Ismail adalah buah dan hasil dari satu abad kesulitan dan penderitaan.

Tak heran jika siti Sarah juga menginginkan keturunan khususnya ketika pandangannya tertuju pada Ismail as. Kemudian beliau berkata kepadan nabi Ibtahim: “Mintalah kepada Tuhan agar akupun memiliki keturunan”.

Nabi Ibrahin as dan siti Sarah walaupun keduanya sudah tua dan sudah tidak ada harapan untuk memiliki keturunan, namun nabi Ibrahim berulang kali melihat pertolongan Tuhan. Oleh karena itu beliau tidak pernah putus harapan dan senantiasa memohon kepada Allah swt supaya siti Sarah juga dikaruniai anak. Tidak berapa lama, doa nabi Ibrahimpun terkabul dan Allah memberi berita gembira ini kepadanya.

Peristiwa berita gembira itu adalah sebagai berikut: Nabi Luth as beberapa lama mengajak kaumnya kepada Tuhan dan kepada akhlaqul karimah. Namun mereka menghina nabi Luth as dan pada akhirnya mereka layak mendapatkan adzab dari Allah swt. Malaikat Jibril bersama beberapa malaikat muqarrab (malaikat tinggi) lainnya bertugas pertama mendatangi nabi Ibrahim as dan memberikan berita gembira tentang kelahiran seorang putra bernama Ishaq. Dan kemudian malaikat-malaikat itu pergi ke kaum nabi Luth dan mengirimkan adzab Tuhan kepada mereka.

BACA JUGA:  PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM ALI AS

Suatu Hari nabi Ibrahim berada di rumah bersama istrinya yaitu siti Sarah. Tiba-tiba nabi Ibrahim melihat tiga orang (atau 9 atau 11 orang) berupa pemuda-pemuda tampan dan kuat datang kepadanya dan memberikan salam. Nabi Ibrahim sangat suka kepada tamu. Beliau segera memotong anak sapi dan menghidangkan makanan yang lezat untuk tamu-tamunya. Akan tetapi pada hakekatnya mereka adalah para malaikat yang datang menjelma sebagai manusia. Dan malaikat tidak makan makanan. Pada jaman itu tidak makan adalah suatu pertanda bahaya mengancam. Ibrahim dengan segala keberanian yang ia miliki merasa takut. Oleh karena itu ini nabi Ibrahim mengira mereka adalah para perampok dan memiliki niatan buruk. Atau mereka datang untuk mengadzab kaumnya…. Namun mereka segera menenagkan nabi ibrahim dan mengeluarkannya dari rasa takut. Mereka berkata kepadanya: Jangan takut. Kami datang untuk menjalankan dua tugas. Pertama kami akan memberi ganjaran dan adzab atas perbuatan kotor kaumnya Luth. Dan yang kedua adalah memberikan berita gembira kepadamu bahwa Allah akan segera memberimu seorang putra bernama Ishaq as dan ia pun akan menjadi nabi. Perasaan khawatir dan takut akhirnya lenyap dari dalam diri nabi Ibrahim as.

Ketika siti Sarah mendengar berita gembira ini beliau tertawa karena heran. Dan berkata: apakah saya yang sudah tua renta dan Ibrahim yang juga sudah tua akan memiliki putra? Sungguh sangat aneh.

Para utusan itu berkata kepada siti Sarah: Apakan anda tidak percaya dan merasa heran terhadap inayah dan kehendak Allah swt? Dialah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan inilah yang Dia kehendaki terhadap kalian. Tak berapa lama bangunan rumah tangga nabi Ibrahim as semakin indah dan hangat dengan kehadiran seorang putra bernama Ishaq[1].

BACA JUGA:  SELAMAT ATAS HARI LAHIR IMAM HASAN MUJTABA AS

Nabi Ibrahim mengucapkan rasa syukur kepada Allah swt dan berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sungguh Tuhanku benar-benar Maha Mendengar doa”[2]

ISMAIL DAN IBUNYA DI SAMPING KA’BAH

Perasaan seorang madu kadang-kadang tibul berupa penderitaan pada diri siti Sarah. Ketika dia melihat nabi Ibrahim as menggendong dan membelai serta mencium putranya yaitu Ismail yang baru tumbuh di sisi ibunya jiwanya merasakan kepedihan, dan iapun tenggelam dalam kesedihan. Api kecemburuan di dalam jiwanya menyala. Mengapa suamiku harus memiliki istri lain bernama Hajar? Sedangkan Hajar dulunya adalah budakku. Kini ia menjadi maduku? Dan Ibrahim mencintai anaknya sebagaimana anakku?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra