NABI ISMAIL AS

NABI ISMAIL AS

Dari sisi lain Allah swt memerintahkan kepada nabi Ibrahim dan Ismail as untuk melaksanakan manasik haji. Jibbril diutus Tuhan turun kepada Ibrahim as dan mengajarkan kedua insan mulia itu manasik haji dari mulai Thawaf, Sa’i, Wuquf di Arafah, Masy’ar, dan adab di Mina dan lain sebagainya. Dan merekapun melaksanakan manasik haji secara teratur dan tertib sebagaimana yang telah diajarkan. Dan dengan melaksanakan manasik haji dan memperhatikan kandungan dari ibadah besar haji, merupakan saksi atas manfaat baik dari sisi materi dan non materinya. Sebagaimana Allah berfirman di dalam al Qur’an: “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dengan mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka…”.[13]

Di dalam sebuah riwayat yang dinukil dari Ibnu Abbas dikatakan bahwa nabi Ibrahim pergi keatas gunung Abu Qubais, jari-jarinya diletakkan di telinganya kemudian berteriak: Wahai umat manusia di seluruh penjuru alam, jawablah seruan Tuhan kalian untuk berziarah ke Baitullah. Tuhan menyampaikan dan memperdengarkan suaranya kepada seluruh umat manusia sampai hari terakhir. Dan mereka yang berasal dari keturunan Ibrahim dari dalam lubuk hati dan fitrahnya menjawab “Labbaik” kepada seruan tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan tujuan besar ini.[14]

Allah swt di dalam surat al-Baqarah ayat 30 berfirman: “Tak seorangpun yang akan berpaling dari agama Ibrahim kecuali orang-orang yang bodoh dan bebal. Kami menjadikan Ibrahim di dunia ini dan di akherat termasuk dari orang-orang sholeh dan mulia”.

Oleh karena itu Ritual haji yang ada di dalam Islam merupakan salah satu ritual terpenting di dalam setiap aliran di dunia ini. Senantia mengenang dan mengingat Ibrahim dan pengabdiannya yang terselubung dalam setiap ritual haji. Pada dasarnya melaksanakan ritual haji tanpa mengingat dan mengenang Ibrahim, tidak ada artinya. Hal ini karena nama dan jalan pejuangannya senantiasa hidup. Dan mereka yang henda melaksanakan perjalanan Irfani, menapakkan kakinya di jalan ini.

BACA JUGA:  PERISTIWA GHADIR KHUM

Haji pada hakekatnya adalah gerak makhluk dengan mengikuti langkah-langkah nabi Ibrahim di jalan Allah swt. Dan di dalamnya juga tercamtum ibadah- ibadah individu dan sosial dimana jika kandungan yang sebenarnya diperhatikan dengan seksama maka kita akan mendapatkan sebuah epik terbesar dan mendalam dalam pengabdian kepada Tuhan. Dan di dalam pangkalan besar tauhid menjawab seruan Ibrahim yang merupakan guru dan pembimbing umat manusia. Dan pada akhirnya sebagaimana Ibrahim hadir dan ada disetiap seruan Tuhan dan merekapun mengetahui bahwa ritual haji Ibrahim berdasarkan baroah (berlepas diri) dari para penyembah berhala dan para musyrikin. Dan memperkuat bangunan-bangunan maknawi merupakan kelaziman setiap muslim.

PENGORBANAN TERBESAR IBRAHIM DAN ISMAIL DI JALAN ALLAH SWT.

Ibrahim telah melalui berbagai macam dan liku-liku kesulitan dan ujian. Dan senantiasa berpasrah diri kepada perintah Allah swr. Dan bergerak dan berjalan di jalanNya. Beliau bersabar karena Allah dalam setiap kesulitan. Dan lulus di dalam setiap ujian Tuhan. Beliau telah membuktikan kelayakan dan kemampuan dirinya. Di dalam hidupnya, nabi Ibrahim sangat mencintai Ismail as. Karena Ismail merupakan hasil dari derita hidupnya dan merupakah ganjaran dan upah dari seabat menderita menahan kesulitan. Selain itu bertahun-tahun mereka hidup terpisah. Dan beliau menderita dengan perpisahan itu. Menyaksikan kehidupan Ismail secara lahir dan batin di dalam setiap tujuan dan motifasi setiap langkah mencari Tuhan sama dengan kehidupan  Ibrahim as.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra