NABI ISMAIL AS

NABI ISMAIL AS

Ismail yang telah menjadi dewasa, dengan penuh keutamaan, sungguh memiliki kelayakan sebagai putra Ibrahim, segera menjawab: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”[17]

Wahai ayah, wasiatku kepadamu adalah: 1- Ikatlah kuat-kuat tangan dan kakiku. Sehingga jika ketajaman pisau telah menggores leherku, dan aku meronta, maka bajumu akan dikotori oleh darah. 2- Ketika engkau pulang kerumah, hiburlah ibuku. Dan jadilah penenang baginya. 3- Sembelihlah aku dalam posisi dahiku di atas tanah dan dalam keadaan sujud, dimana posisi ini adalah posisi terbaik untuk sebuah qurban. Selain itu wajahmu tidak akan melihat wajahku. Sehingga engkau tidak akan dikuasai oleh perasaan keayahan. Dan tidak akan memalingkan dirimu dari menjalankan perintah Tuhan. Ibrahim mengikat tangan dan kaki Ismail dengan tali. Dan telah siap untuk menyembelih Ismail, putra tercintanya sebagai qurban. Jiwa Ismail yang tinggi sangat membantu ayahnya dalam melaksanakan perintah Tuhan. Ibrahim meletakkan pisau di kerongkongan Ismail. Iapun menekan pisau itu supaya perintah Tuhan segera  terlaksana. Ia menekan dengan sekuat tenaga namun pisau tidak bisa mengiris. Ibrahim menjadi sangat sedih, karena perintah Tuhan tertunda pelaksanaannya, iapun menjatuhkan pisau itu di atas tanah dengan perasaan sedih. Dengan ijin dan kehendak Tuhan, pisau itu bersuara, dan berkata: Khalil berkata kepadaku; bawalah. Namun Jalil (Tuhan Yang Maha Perkasa) melarangku untuk mengiris.[18]

Ibrahim meminta tolong kepada Ismail. Ia berkata kepadanya: Putraku, apa yang harus aku lakukan?

Ismail berkata: Tusukkan ujung pisau ke tenggorokanku seperti cara menyembelih unta. Ibrahim hendak melaksanakan usulan Ismail. Pada saat itu pula terdengan oleh telinga Ibrahim suara dari Allah swt.

BACA JUGA:  KISAH KELAHIRAN IMAM HUSEIN AS

Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu (قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ). Bersamaan dengan suara tersebut dikirim pula kepada Ibrahim seekor kambing yang selama ini digembalakan di padang rumput di surga. Ibrahim mendengar suara sehingga ia melepaskan Ismail dan sebagai gantinya kambing tersebut di sembelih sebagai qurban.[19]

Tuhan tidak haus darah, tidak ingin membunuh manusia. Melainkan ingin membangun manusia. Ibrahim dan Ismail dengan segala perjuangan dan pengorbanan serta pengabdian ini dan ber-itiqomah dalam menghadapi ujian yang paling berat telah menjadi pahlawan para pemenang.

Kisah Ibrahim dan Ismail bukan kisah pembunuhan dan pertumpahan darah. Melainkan kisah pengorbanan dan perjuangan serta tunduk dan patuh kepada Al-Haq. Sehingga Ibrahim-Ibrahim sepanjang sejarah mengetahui, beginilah seharusnya pergi menghadap Tuhan. Yaitu melepaskan semuanya dan menundukkan kepala dihadapan Yang Maha Perkasa.

Karena selama manusia tidak bunuh diri seperti ini, dan tidak menjadi pelempar Iblis dan berkorban serta tidak menjadi orang lapangan (orang pergerakan), tidak akan pernah menjadi Ibrahim dan mencapai derajat keimamahan dan Tuhan memberi salam kepadanya.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ * وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِين * سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. ”Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”[20]

Kata ‘Azhim mungkin memberi isyarah kepada bahwa pengorbanan Ibrahim begitu besar, dimana tebusannyapun besar. Tidak hanya kambing tersebut yang pada saat itu juga dikirim kepada Ibrahim telah dijadikan qurban, melainkan pada setiap musim haji di setiap sudut dan penjuru dunia kaum muslimin pada hari idul qurban menyembelih jutaan kambing atau hewan-hewan lainnya dan mengenang nabi Ibrahim sang pahlawan pengorbanan. Dan memperbaharui kenangan Ibrahim as adalah sungguh suatu hal yang agung. Beginilah Tuhan memberikan ganjaran kepada hambanya yang mukhlas dan penuh pengorbanan. Supaya nama besar mereka terpatri di dalam lubuk hati yang paling dalam. Dan manusia beriman dan disepanjang sejarah mengambil pelajaran darinya dan bertawadhuk dan merendah diri di hadapan Ibrahim as. Dan tidak melupakan perjuangan Ibrahim as. Dan senantiasa melangkah di jalan-jalan Ibrahim as. Dan mempelajari cara hidup Ibrahim, Istri dan putranya.

BACA JUGA:  KISAH MASJID JAMKARON

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra