NABI ISMAIL AS

NABI ISMAIL AS

Ringkasnya adalah Waswas-waswa hawa nafsu menimbulkan badai kepedihan dan kesedihan pada siti Sarah. Dan kadang-kadang menyebabkan bertindak yang tidak seharusnya terhadap nabi Ibrahim as.

Diriwayatkan: Ismail dan Ishaq tumbuh semakin besar (sebatas mereka berdua mampu bertanding gulat atau lomba lari). Disalah satu pertandingan Ismail as memenangkan pertandingan. Nabi Ibrahin as segera memeluk Ismail dan mendudukkannya di pangkuannya dan Ishaq didudukkan disampingnya. Menyaksikan pemandangan itu membuat siti Sarah sedih sehingga ia berkata kasar kepada nabi Ibrahim: Bukankah sudah disepakati untuk tidak menyamakan ke dua anak ini? Jauhkanlah Hajar dariku dan bawalah ketempat lain.[3]

Karena dulu siti Sarah sangat mengasihi dan menyantuni nabi Ibrahim as. Dan nabi Ibrahim senantiasa berlaku setia dan santun kepadanya. Oleh karena itu beliau tidak ingin siti Sarah sedih terhadapnya.

Gangguan-gangguan siti Sarah membuat nabi Ibrahim mengadu kepada Tuhan. Dan Allah swt berwahyu kepada nabi Ibrahim sebagai berikut: “Wanita bagaikan kayu bengkok yang kering. Jika engkau membiarkannya, maka kamu akan mengambil manfaat darinya. Namun jika kamu meluruskan kayu tersebut, maka ia akan patah”

Kemudian Tuhan memerintahkan nabi Ibrahim untuk menjauhkan siti Hajar dan Ismail dari siti Sarah. Nabi Ibrahim as bertanya: Kemana saya harus membawa mereka? Allah swt yang menghendaki RumahNya yaitu Ka’bah dibangun kembali oleh nabi Ibrahim sendiri, memberi wahyu kepadanya dan berfirman: Bawalah mereka ke haram dan tempat amanKu sendiri. Rumah pertama yang aku cipta untuk umat manusia yaitu Ka’bah.[4]

Nabi Ibrahim dengan melaksanakan perintah tersebut walaupun terlepas dari jalan buntu kesulitan keluarga, namun hal tersebut merupakan pekerjaan yang sangat sulit dan menyakitkan. Karena orang-orang yang dikasihinya yaitu siti Hajar dan Ismail harus dibawa dari Palestina yang merupakan tempat yang subur dan makmur ke lembah, suatu tempat yang kering dan tandus Mekah di samping Ka’bah yang berada di antara gunung-gunung yang kering dan tandus.

BACA JUGA:  SELAYANG PANDANG IMAM ALI BIN MUSA AL-RIDHA AS

Kalau kita merenungkan dengan baik, meletakkan istri dan anak di padang sahara dan lembah dan diantara gunung-gunung, mengingat disiang hari yang panas dan terik  dan dimalam hari yang gelap gulita diantara binatang-binatang buas. Merupakan pekerjaan yang sangat sulit dan pahit. Namun nabi Ibrahim adalah seorang laki-laki yang tahu jalan dan pencetus sejarah perjuangan, ikhlas dan pengabdiannya di hadapan Tuhan sedemikan rupa sehingga menganggap dirinya tidak ada. Seluruh wujudnya hanyalah setetes di hadapan samudra tak terbatas.

Nabi Ibrahim membawa pergi Hajar dan Ismail as dari Palestina menuju Mekah. Jarak yang sedemikian jauh itu ditempuh dengan menunggang unta dan keledai hingga akhirnya mereka sampai di tanah yang tandus dan terik membakar Mekah. Disana tak ada setetespun air. Dan tidak satupun manusia dan binatang berada di tempat tersebut. Sungguh nabi Ibrahim sedang menghadapi ujian yang paling sulit dan ajib mengherankan, namun beliau as dengan yakin dan percaya diri menjalankan perintah Tuhan itu. Dan meletakkan siti Hahar dan putranya yang masih kecil di tempat yang kering dan tandus dan nabi Ibrahimpun bersiap-siap untuk kembali.

Siti Hajar memanggilnya dengan sedih dan deraian air mata: Wahai Ibrahim, Siapa yang memerintahkan kamu meninggalkan kami ditempat yang tidak ada tumbuhan dan tidak ada binatang yang memberikan susu dan bahkan tidak ada setetes airpun dan tanpa bekal dan pelindung?

Nabi Ibrahim menjawab: Allah yang telah memerintah saya demikian.

Ketika siti Hajar mendengar jawaban suaminya beliau berkata: “Jika demikian adanya, Allah tidak akan pernah meninggalkan kami”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra