NABI ISMAIL AS

NABI ISMAIL AS

Didalam manasik haji telah diwajibkan kepada jamaah yang melakukan ibadah haji untuk melemparkan tujuh batu kerikil kepada Jumrah Ukhra. Kemudian melempari batu kepada tiga tiang  dari batu (jumrah ula (yang pertama), wustha (tengah), Ukhra (yang terakhir).

GAMBARAN LAIN TENTANG WASIAT ISMAIL SANG PAHLAWAN KESABARAN

Ismail yang baru tumbuh besar, dimana menurut sebagian perawi berusia tiga belas tahun. Sedikit demi sedikit menjadi pembantu yang setia dan kepercayaan sang ayah. Sang ayah pada tanggal delapan dzulhijjah, bermimpi bahwa seseorang berkata kepadanya: Ismail harus di qurbankan di jalan Tuhan. Karena itulah malam ini dinamakan “malam Tarwiah”….

Malam berikutnya yaitu (malam ke sembilan), mimpi itu kembali terlihat di dalam tidurnya. Sungguh Ibrahim mengimani dan meyakini bahwa mimpi-mimpi tersebut mimpi Rahmani dan benar dan bukan sebuah bisikan was-was. Malam ini dinamakan Arrafah (malam pengetahuan)….. Karena Ibrahim mengetahui kebenaran mimpinya.

Ibrahim telah memutuskan untuk menjadikan Ismail sebagai qurban. Ketika Ibrahim membawa Ismail ke tempat berqurban, dan menidurkannya di atas tanah untuk dijadikan qurban, Ismail berwasiat enam perkara berikut:

  • Ikatlah dengan kuat kedua kaki dan kedua tanganku, sehingga jika aku memberontak, gerakanku akan membuat tertundanya pelaksanaan perintah Tuhan.
  • Lepaskanlah bajuku dari badanku sehingga tidak ternodai oleh darah dan tidak merepotkan anda untuk mencucinnya. Dan tidak terlihat oleh ibuku dan ia menjadi berduka.
  • Tutuplah diriku dengan bajumu, sehingga aku bisa mencium baumu dan aku bisa dengan mudah melepas nyawaku.
  • Letakkanlah pisau di leherku dengan ringan sehingga aku bisa merasakan kematian dengan tenang.
  • Kalau bisa, malam ini engkau jangan pergi kepada ibuku sehingga ia bisa melupakanku (Karena berjauhan akan mengurangi rasa cinta dan kasih sayang)
  • Sampaikanlah salamku kepada ibuku. Berikanlah bajuku kepadanya sehingga menjadi penenang
BACA JUGA:  KISAH MASJID JAMKARON

Ketika Ibrahim melihat Ismail begitu siap sedia dalam membantu ayahnya dalam melaksanakan perintah Tuhan, dengan hati lega dan penuh keakraban berkata: “Kamu adalah hamba Allah yang baik dalam melaksanakan perintahNya”.[21]

AKHIR UMUR ISMAIL DI MEKAH

Hadhrat Ismail hidup di Mekah bersama keluarga dan anak-anaknya dan hidup sebagai seorang nabi dan pembimbing umat. Dan senantiasa memikirkan bagaimana mengatur rencana supaya  musim haji semakin besar dan agung setiap tahunnya. Dan hakikatnya juru kunci dan posisi penjaga haji berada dipundaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra