PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM ALI AS

PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM ALI AS

12 – WASIAT IMAM ALI AS PADA MALAM DUA PULUH SATU.

Di dalam kitab Addurrun Nazhim[3] diriwayatkan bahwa Ashbagh bin Nubatah berkata: Imam Ali as pada akhir umurnya, memanggil imam Hasan as dan imam Husein as dan berkata kepada mereka: Malam ini ruhku akan terangkat dan aku akan menemui Rasulullah saww. Dengarkanlah ucapanku (wasiatku) dan ingat-ingatlah. “Wahai Hasan engkau adalah washiku dan setelahku engkau akan memikul posisi keimamahan. Dan kamu wahai Husein, dalam washiatku kamu bersama Hasan adalah sama. Selama Hasan as berbicara, kamu diamlah. Ikutilah perintahnya selama ia hidup. Dan setelah ia meninggal, yang berbicara dan pembimbing setelahnya dan pemangku urusan ke imamahan adalah kamu. Aku berwasiat supaya kalian Takwa dan takut kepada Allah. Ketehuilah bahwa tidak ada yang selamat selain orang yang mengikuti Allah. Dan tidak akan celaka kecuali orang yang menentang perintah Allah. Berpegang teguhlah kepada tali Allah yaitu al-Quran, kitabullah yang mulia. Kitab dimana tidak ada kebatilan di dalamnya yang telah diturunkan oleh Allah dengan kuat dan tegas.

Kemudian imam Ali as berkata kepada imam Hasan as: Kamu adalah wali amr setelahku. Jika kamu memaafkan pembunuhku, maka tidak ada apa-apa. Jika kamu memutuskan untuk membunuhnya, maka tebaslah dia dengan sekali tebas sebagaimana dia menebasku sekali. Pastikan kamu tidak melakukan mutslah (memotong anggota tubuh). Karena Rasulullah saww melarang mutslah (memotong anggota tubuh) walaupun terhadap anjing. Ketahuilah Husein sama denganmu adalah pemilik darah (bekerja samalah dalam pembunuhan pembunuhku). Allah swt memberi kuasa kepada Husein as terhadap pembunuhku sebagaimana dirimu. Sesungguhnya ibnu Muljam sekali menebasku tidak berefek, kemudian ia memukulkan kembali pedangnya dan berefek.[4] Jika pukulan yang kamu lakukan kepadanya berefek, berarti selesai dan tidak ada hal lagi. Tetapi jika tidak, maka suruhlah saudaramu Husein as untuk menebasnya sekali lagi berdasarkan haknya sebagai hak kewilayahan yang dia miliki. Dan pedangnya mengahiri urusannya. Sebagaimana posisi dan maqom imamah setelah dirimu adalah jatuh pada Husein as. Dan setelah itu akan jatuh pada keturunannya sampai hari kiamat. Dan hindarilah karena diriku, membunuh orang selain pembunuhku. Karena Allah swt berfirman:

BACA JUGA:  Kisah Sang Pecinta Masjid Gohar Shad

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ

“Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain”.[5]

12 – WASIAT LAIN IMAM Ali  as DAN TEHNIS PENGUBURANNYA

Syekh Mufid dan lainnya meriwayatkan: Ketika imam Ali as sedang jatuh sakit berbaring menjelang kesyahidannya, beliau berkata kepada imam Hasan dan imam Husein as: Ketika aku telah meninggalkan dunia ini, letakkanlah jenazahku di dalam peti matiku dan bawalah keluar. Kemudian peganglah bagian belakangnya, maka bagian depan peti mati akan bergerak dengan sendirinya. Kemudian bawalah aku ke Najaf. Disana kalian akan melihat sebuah batu berwarna putih yang berkilau. Galilah tempat batu itu. Kemudian di sana kalian akan melihat sebuah lahan yang luas. Kuburkanlah diriku di sana.

Salah seorang yang hadir berkata: Setelah Amirul Mukminin as meninggal dunia, sesuai dengan wasiat imam Ali as jenazahnya di bawa keluar rumah. Kami memegang bagian belakang peti mati dan bagian depan peti mati bergerak sendiri. Dan di perjalanan menuju Najaf kami senantiasa mendengar suara seperti suara angin bertiup dan suara burung-burung berterbangan sampai kami sampai di Najaf. Tiba-tiba di sana kami melihat batu berwarna putih berkilau, kami menggali tempat batu tersebut dan kami sampai di sebuah lahan yang luas. Kami melihat (diatas batu atau papan) tertulis: Kuburan ini adalah dibuat dan disediakan oleh Nuh as untuk Ali bin Abi Tholib as. Kami menguburkan imam Ali as di tempat tersebut dan kamipun kembali kerumah masing-masing. Kami senang dengan penghormatan Allah swt untuk Amirul Mukminin as.

Kami berjumpa dengan sekelompok orang-orang Syi’ah yang tidak hadir dalam pengurusan jenazah dan tidak menshalati imam Ali as. Dan kamipun menceritakan perihal penghormatan Allah swt terhadap jenazah dan pemakaman imam Ali as kepada mereka.

BACA JUGA:  IMAM ALI AS DI DALAM AL QUR-AN

Mereka berkata: Kami juga ingin menyaksikan dan melihat apa yang telah anda saksikan dengan mata sendiri. Kami berkata: Tempat pemakaman imam Ali as, sesuai dengan wasiat beliau telah tersembunyi dari semua pandangan. Mereka pergi dan kembali dan mereka berkata: mereka menggali tanah kuburan tetapi mereka tidak menemukan apa-apa.

Jabir bin Yazid Jukfi berkata: Aku bertanya kepada imam Baqir as: Jenazah Amirul Mukminin di kuburkan dimana? Imam menjawab: Di makamkan di sebelah Gharyain (sebuah titik di sahara Najaf). Jenazah imam Ali as dimakamkan sebelum terbit fajar dini hari. Yang turun ke dalam makam adalah Imam Hasan as, imam Husein as dan Muhammad Hanafiah, putra-putra imam Ali as dan Abdullah bin Jakfar (menantu imam Ali as) dan putra saudara imam Ali as (keponakan beliau as).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra