PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM ALI AS

PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM ALI AS

Imam Ali as berkata: Berhati-hatilah jangan sampai ibnu Muljam melarikan diri. Masyarakat menyerbu untuk menangkap ibnu Muljam dan sekutunya. Dan melempari batu ke arah ibnu Muljam dan mereka berlarian dan berteriak-teriak untuk menangkap ibnu Muljam. Dalam pada itu, seorang laki-laki dari suku Hamdan menendang betis ibnu Muljam dengan kakinya. Dan Mughirah bin Naufel bin Harits bin Abdul Muthallib (putranya saudara sepupu imam Ali as) sedemikian keras menampar ibnu Muljam sampai ia tersungkur ke tanah dan menangkapnya dan membawanya ke hadapan imam Hasan as.

Syabib meleburkan diri diantara kerumunan masyarakat dan melarikan diri di antara kerumunan masyarakat untuk menyelamatkan dirinya dan ia lari menuju untanya. Abdullah bin Bujrah Yang merupakan saudara tirinya mendatanginya. Ia melihat dan mengeluarkan kain sutra dari dadanya. Ia menanyakan kejadian itu, dan Syabib menceritakan apa yang telah terjadi. Abdullah pergi ke perlengkapannya dan kembali kepada Syabib dengan sebilah pedang, kemudian menyerangnya dan membunuhnya. Dengan demikian Ibnu Muljan tertangkap, dan Syabib terbunuh sedangkan ibnu Wardan melarikan diri.[2]

5 – KEADAAN IMAM ALI AS PADA MALAM ITU

1 – Menurut penukilan sebagian orang, imam Ali as malam 19 Ramadhan tidak tidur dan senantiasa berjalan hilir mudik antara pintu dan kamar tempat tinggalnya dan bergumam:

( وَ اللَّهِ مَا كَذَبْتُ وَ لاَ كُذِبْتُ). “Demi Tuhan saya tidak berbohong dan saya tidak dibohongi”, malam ini adalah malam dimana telah dijanjikan kepadaku untuk bertemu Allah.

Ketika angsa-angsa peliharaan milik anak-anak berbunyi membuat keributan, Sebagian penghuni  rumah hendak membungkamnya. Imam Ali as berkata kepadanya:

“Celakalah kamu, biarkanlah angsa-angsa itu dengan keadaan dirinya karena mereka meratapi sesuatu dimana ratapannya akan diikuti oleh para peratap”.

BACA JUGA:  KISAH MASJID IMAM HASAN MUJTABA as

2 – Mas’udi (ahli sejarah ternama) menuliskan: Amirul Mukminin Ali as keluar dan pergi menuju masjid. Ketika hendak keluar dari pintu rumahnya, pintu rumah yang terbuat dari kayu pohon kurma terasa sangat berat dan imam Ali as kesulitan membukanya. Kemudian imam mencabut pintu itu dan meletakkannya di samping. Ikat pinggangnya terlepas dan imam mengikatnya kembali dengan kuat dan kencang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra