PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM ALI AS

PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM ALI AS

Syekh Mufid as mengatakan: Makam Amirul Mukminin Ali as senantiasa tersembunyi.[6] Sampai imam Shodiq as mengungkapnya pada masa pemerintahan Abbasi. Dan imam Shodiq sendiri menziarahi makam imam Ali as ketika beliau pergi ke Hirah untuk menemui Manshur Dawaniki. Dan setelah itu orang-orang Syiah mengetahui makam imam Ali as tersebut. Dan Sejak saat itu orang-orang Syiah menziarahi makam imam Ali as. Dan terungkapnya makam imam Ali as terjadi pada tahun 163 hijriah. (penulis mengatakan: mengingat imam Shodiq as syahid pada tahun 148, maka secara lahiriah, tahun 163 adalah salah. Atau kami katakan bahwa permulaan orang-orang Syiah mengetahui secara resmi dimana makam imam Ali as berada adalah mulai tahun 163 Hijriah.

RIWAYAT LAIN TENTANG TERUNGKAPNYA MAKAM AMIRUL MUKMININ ALI AS

Pada awal-awal pemerintahan Bani Abbas, bagi Ahlulbait dan pengikut Syiah diberlakukan relatf bebas tetapi pada tahun-tahun berikutnya kebebasan itu diangkat. Hari demi hari kejahatan dan kekejaman Abbasi semakin nampak, sedemikian rupa sampai-sampai mereka senantiasa  mengawasi dan memenjarakan para imam-imam yang suci. Mereka juga mengubur hidup-hidup pengikut imam Ali as dan Fathimah. Hari demi hari kehidupan orang-orang Syiah semakit tercekik.

Dalam keadaan yang demikian itu orang-orang Syiah karena takut terhadap kekejaman para khalifah tidak bisa berziarah ke makam Aimmah as diantaranya makam Amirul Mukminin Ali as. Politik pemerihan Abbasi ini menyebabkan makam-makam mulia itu kembali kepada keadaan semula yaitu terlupakan oleh setiap hati dan kembali terkubur.

Pada jama Harun terjadi peristiwa berburu dimana dengan peristiwa itu menyebabkan makam Amirul Mukminin Ali as kembali terungkap. Dan keagungan yang sempat lenyap di setiap hati para pencintanya kembali bersemi. Dari sejak saat itu Harun tidak melarang orang datang berziarah ke makam imam Ali as, bahkan dirinya sendiripun datang untuk berziarah. Peristiwa terungkapnya makam Amirul mukminin telah disebutkan di dalam kitab-kitab sejarah. Tetapi yang menarik perhatian disini adalah riwayatnya dari satu perawi dinukil dengan dua jalan:

BACA JUGA:  PERISTIWA GHADIR KHUM

1 – Abdullah Hazim mengatakan: Suatu hari kami menyertai Harun keluar dari Kufah untuk berburu dan di Gharyain dan Tsaubah kami melihat beberapa ekor rusa. Kami mengirimkan burung-burung dan anjing pemburu. Dan mereka mengejar rusa-rusa itu selama satu jam. Pada akhirnya rusa-rusa itu berlindung disebuah ketinggian dan burung-burung elang berhamburan dan anjing-anjing pemburupun kembali kepada kami. Harun heran menyaksikan pemandangan itu. Ketika rusa-rusa itu kembali turun dari ketinggian itu, burung-burung elang dan anjing pemburu kembali mengejar mereka, tetapi rusa-rusa itupun kembali berlari dan berlindung di balik ketinggian itu. Peristiwa itu terulang sampai tiga kali dan hari itu tidak mendapat binatang buruan.

Harun memerintahkan untuk membawa menghadapnya setiap orang yang terlihat disekitar tempat tersebut untuk dimintai keterangan tentang peristiwa tersebut.

Mereka menghadirkan seorang laki-laki dari bani Asad. Harun memerintahkan untuk menjelaskan apa yang terjadi di balik ketinggian itu dan jelaskan dengan jelas apa yang telah kami alami? Laki-laki itu menjawab: Jika anda memberi kami aman, saya akan menjelaskan hakikat apa yang terjadi. Harun berkata: Saya berjanji kepada Allah jika anda menjelaskan hakikatnya saya menjamin keselamatanmu. Laki-laki itu berkata: Ayahku menukil dari ayah-ayahnya bahwa di bawah ketinggian itu terdapat makam Amirul Mukminin Ali as. Dan Allah swt menjadikan tempat tersebut sebagai haramNya yang aman. Setiap yang berlindung di tempat tersebut akan aman dari segala ancaman.

Harun setelah mendengar hakikat tersebut tersadar dn kemudian ia turun dan berwudhu dan melaksanakan shalat di samping ketinggian dan gundukan itu. Ia mengusapkan wajahnya dengan tanah dan menangis kemudian kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra