menyaksikan awan, ia bersujud sebagai tanda Syukur kepada Allah swt. Kemudian dia pergi dari tempat tersebut. Hujan turun sangat lebat, sebegitu lebatnya saya hingga saya membayangkan kami akan tenggelam. Secara sembunyi-sembunyi saya mengikuti budak hitam tersebut untuk mengetahui siapa laki-laki mukmin tersebut yangmana hujan turun karena doanya. Saya melihat ia memasuki rumah imam Sajjad as. Kemudian saya menjumpai imam Sajjad as dan mengatakan: “Wahai tuan dan maulaku, di rumah anda ada seorang budak berkulit hitam, saya mengharap anda menjualnya kepadaku”.
Imam berkata: Wahai Said, mengapa aku tidak akan memberikannya kepadamu? Kemudian imam berkata kepengurus budak-budak: Semua budak-budak perlihatkan kepada Said. Kemudia dia memperlihatkan seluruh budak-budak. Tetapi budak berkulit hitam tersebut tidak ada diantara mereka. Saya berkata: Saya tidak melihatnya.
Pengurus budak berkata: Tidak ada lagi yang tersisa selain si fulan yang mengurus binatang-binatang ternak. Dia memerintahkan supaya ia dipanggil. Saya melihat ia adalah budak berkulit hitam itu. Saya berkata kepada imam Sajjad as: Inilah dia yang saya inginkan. Imam Sajjad as berkata kepadanya: Wahai budak, Said adalah pemilikmu sekarang. Oleh karena itu ikutlah dengannya.
Budak berkulit hitam berkata kepadaku: Apa yang menyebabkan engkau memisahkan diriku dari tuanku?
Saya berkata: pada jam fulan aku melihatmu di atas gundukan, kamu berdoa, kemudian hujan turun. Oleh karena itu aku menyukaimu.
Budak itu begitu mendengar ucapan Said dengan khusuk dan kerendahan hati mengangkat tangannya ke arah langit, kemudian berkata: Ya Allah itu adalah rahasia antara diriMu dan diriku. Sekarang Engkau telah membongkar rahasia tersebut, maka bawalah aku menjumpaiMu (ambillah jiwaku). Imam Sajjad dan semua yang hadir menangisi keikhlasan budak berkulit hitam tersebut. Dan saya meluar dari rumah imam dalam keadaan menangis. Ketika saya sampai ke rumah, datang utusan imam Sajjad as. Dia berkata: Datanglah kalau engkau ingin menghadiri acara penguburan temanmu. Saya kembali ke rumah imam Sajjad as. Saya melihat budak itu meninggal di hadapan imam Sajad as.
(Peristiwa ini menunjukkan kesucian jiwa dan ketinggian hasil didikan imam Sajjad as dan menerangkan persahabatan imam sehingga membawa budak itu ke derajat maknawi yang begitu tinggi sehingga doa-doanya terkabul/mustabud doa).
SHAHIFAH SAJJADIYAH
Shahifah Sajjadiyah adalah nama sebuah buku doa peninggalan dan warisan imam ke empat yaitu imam Zainul Abidin as. Shahifah Sajjadiyah juga dikenal dengan nama “Shahifah kamilah”. Ibnu Syahr-e Asyub di dalam kitab Ma’alimul Ulama menyebutnya dengan “Zabur Aali Muhammad”, Injil Ahlul Bait dan Ukhtul Quran. Alasan mengapa di beri nama Shahifah Kamilah karena Terdapat salinan yang lebih kecil dari shahifah yang ada ini, dimana salinan yang lebih kecil itu ada di tangan para pengikut aliran Zaidiyah. Oleh karena itu salinan yang berada ditangan Syiah imamiyah lebih besar dan lebih lengkap.



