Kemudian anak muda itu bersiap-siap untuk pergi. Saya khawatir tidak dapat mengenal pemuda tersebut karena itu aku memegang bajunya dan mengatakan: Demi Tuhan yang telah mengangkat lelahnya ibadah dengan segala kesulitnya darimu, dan membuatmu melezati dan menikmati munajat dan membuatmu khusuk kepadaNya, kasihanilah dan berlembutlah kepadaku, karena aku telah kehilangan jalan dan tersesat. Aku menyukai apa yang kamu lakukan dan makna kata-katamu menjadi harapanku.
Anak muda itu berkata: Jika anda betul-betul bertawakkal kepada Allah, anda tidak akan tersesat, Sekarang ikutlah denganku. Beliau datang kedekat pohon dan memegang tanganku. (Kami begitu cepat menuju Mekah) Saya membayangkan bumi di bawah kakiku akan tetarik. Ketika fajar pagi menyongsong, beliau berkata kepadaku: Sekarang berbahagialah, Anda telah berada di Mekah. Disini adalah kota Mekah. Pada saat itu saya mendengan suara kirik pikuknya masyarakat dan saya melihat jalanan. Saya berkata kepada anak muda itu: Demi Tuhan yang menjadi harapanmu pada hari kiamat, katakan padaku siapakah anda?
Beliau berkata: “Karena Anda telah bersumpah untukku, aku adalah Ali bin Husain as”
Keikhlasan Budak Imam Sajjad as
Mas’udi (seorang ahli Sejarah ternama) di dalam kitab Itsbatul Washiah menuliskan: Said bin Musaiyib meriwayatkan: Satu tahun paceklik dan kekeringan melanda seluruh kota dan sekitarnya. Sejauh mata memandang, saya melihat seorang berkulit hitam sendirian diatas gundukan tanah. Saya pergi menghampirinya. Saya melihat bibirnya bergerak (dia sedang berdoa meminta hujan) Belum selesai dia berdoa, saya melihat awan hitam bergumpal-gumpal di langit. Ketika budak hitam tersebut




