KISAH SAIYIDUS SAJIDIN IMAM ZAINUL ABIDIN AS

KISAH SAIYIDUS SAJIDIN IMAM ZAINUL ABIDIN AS

Di dalam kitab Kasyful Ghumah diriwatkan bahwa pada suatu malam imam Sajjad as berada di Mihrob untuk beribadah dan bermunajat kepada Tuhanya. Kemudian Syetan dengan menjelma naga datang untuk mengalihkan perhatian imam Sajjad dari ibadahnya, tetapi imam Sajjad tidak memperhatikannya. Kemudia syetan mendatanginya dan mengambil ibu jari kaki dan menggigitnya, tetapi imam tetap dalam ibadahnya. Dan imam tahu bahwa ia adalah Syetan. Karena itu imam berkata: Menjauhlah wahai mal’un, dan Kembali imam tenggelam dalam ibadahnya. Kemudia ada suara memanggil sebanyak tiga kali: Engkaulah Zainul Abidin. Karena itulah beliau dijuluki dengan Zainul Abidin.[2]

Diriwayatkan juga imam Sajjad dijuluki dengan Dzu Tsafanah yaitu orang yang memiliki kulit tebal dan keras. Sujud-sujud yang pajang berakibat pada lutut dan dahi beliau.

Zuhri seorang cendekiawan pada masa itu mengatakan: dari kalangan Bani Hasyim aku tidak melihat orang yang lebih baik dari beliau as.

Diriwayatkan juga bahwa beliau memiliki lima ratus pohon kurma. Imam Sajjad sholat dua rokaat di bawah setiap pohon kurma tersebut. Setiap ambil wudhu wajahnya menjadi pucat. Keluarganya menegor Imam, apa yang terjadi pada anda setiap berwudhu anda mengalami hal yang demikian?

Imam menjawab: “Apakah kamu mengetahui aku akan berdiri di hadapan siapa?”

Ketika telah masuk waktu shalat, badan imam Sajjad bergetar, wajahnya pucat, ketika melaksanakan Shalat badannya bergetar laksana seorang budak hina di hadapan seorang pemimpin dan raja agung dan seperti seorang hamba yang hendak berpisah dengan dunia. Pada saat tiba bulan Romadhan, beliau as tidak berucap apapun selain doa, bertasbih,beristighfar dan bertakbir. Beliau memiliki kantong dari kulit di dalamnya terdapat turbah imam Husain as. Imam tidak sujud dengan apapun selain dengan turbah tersebut.

BACA JUGA:  KISAH KELAHIRAN IMAM MAHDI AFS

 

Kisah Seorang Pemuda Tak Dikenal Dengan Shalat dan Munajatnya Yang Ajib.

Hammad bin Habib ‘Athar Kufi mengatakan: Aku bersama kafilah melakukan perjalanan dari Kufah menuju Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Dan kami sampai ke suatu tempat peristirahatan bernama Zubalah. Dari sana kami bergerak dan melanjutkan perjalanan pada malam hari. Di tengah perjalanan berhembus angin hitam dan gelap sehingga anggota rombongan terpencar-pencar dan terpisah satu sama lain. Aku kehilangan arah di padang pasir itu. Aku terus melangkah seperti orang yang tidak memiliki tujuan hingga aku sampai di suapu padang pasir yang kering dan tandus tak ada air dan tumbuh-tumbuhan. Aku berteduh di samping sebuah pohon. Setelah gelap betu-betul menyelimuti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra