Kemudian Amirul Mukminin Ali as bertanya menggunakan bahawa Persia kepada sang putri: Siapa namamu: Putri menjawab: Jihan Syah. Saya memberimu nama Syahr Banu. Sang putri menjawab: Ini adalah nama saudariku”. Imam Ali as berbicara menggunakan bahasa Persia dengannya: “Anda benar”. Kemudian imam Ali as memandang Imam Husain as dan berkata: Jagalah dengan baik putri ini. Perlakukan dia dengan baik. Dia akan memberimu anak-anak yang terbaik dari penghuni bumi setelah kamu. Dia adalah ibu para Washi dari Dzuriahku yang suci. Maka lahirlah imam Zainul Abidin darinya.
Diriwayatkan bahwa sebelum tentara Islam menyerbu mereka, Syahr Banu bermimpi Rasulullah saww datang kerumanya bersama imam Husain as. Dan Melamarnya untuk imam Husain as dan mengawinkannya dengan imam Husain as. Syahr Banu mengatakan: Pagi harinya tumbuh rasa cinta di hatiku terhadap bintang ketiga dari keimamahan dan aku selalu memikirkan beliau. Pada malam yang lain aku bermimpi hadhrat Fathimah as mendatangiku, dan memberi salam kepadaku. Dan aku di alam mimpiku masuk Islam dibawah bimbingan beliau as. Kemudian beliau mengatakan: Dalam waktu dekat tentara Islam akan mengalahkan ayahkmu, dan dirimu akan menjadi tawanan dan seepatnya akan bertemu dengan putraku Husain as. Dan Allah tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu sampai kamu bertemu putraku Husain as. Dan Allah Ta’ala menjagaku, tak seorangpun menyentuhku sampai aku dibawa ke Madinah. Pada saat aku melihat imam Husain as, aku tahu bahwa beliau adalah orang yang datang padaku bersama Nabi saww dan Nabi saww mengawinkanku dengannya. Karena itulah aku memilih Beliau.[1]
Imam Ali bin Husain as memiliki banyak gelar dan julukan, diantaranya yang terkenal adalah: Zainul Abidin, Saiyidul Abidin, Zaki, Amin, Sajjad, Dzus Tsafanat.
Ibnu Babaweh meriwayatkan dari imam Baqir as: Ayahku Ali bin Husain as Tidak pernah mengingat nikmat Tuhan kecuali beliau bersujud sebagai tanda syukur atas nikmat tersebut. Dan tidak membaca satu ayatpun dari al Quran yang di dalamnya ada sujud, kecuali beliau beliau bersujud. Dan beliau selalu bersujud setiap ada keburukan terangkat dan ada kehawatiran di dalamnya atau makar pembuat makar telah berlalu. Dan setiap berhasil menyatukan dua teman yang berselisih, berliau berujud sebagai tanda syukur. Dan bekas sujud nampak di anggota sujudnya. Oleh karena itu beliau diberi julukan Sajjad.



