KISAH MASJID IMAM HASAN MUJTABA as

Senin hari berikutnya, pagi-pagi sekali ada seorang wanita datang dari keadaannya dan kedua anak yatimnya menjelaskan tentang kefakiran dan kebutuhannya. Saya memasukkan tangan ke dalam saku. Tetapi tidak ada uang sama sekali di sakuku. Saya lupa untuk meminta uang dari orang rumah.  Lalu saya memberikan uang lima puluh tuman masjid itu kepada wanita tersebut. Dan saya katakan nanti saya yang akan membayarnya. Saya memberikan alamat kepada perempuan tersebut untuk saya bantu. Wanita tersebut mengambil uang tersebut dan pergi. Dan tidak datang lagi padahal saya sudah memberinya alamat. Tetpi kemudian saya sadar bahwa tidak boleh memberikan uang tersebut dan saya sangat menyesal.

Sampai hari jumat berikutnya, pak Akbar datang lagi untuk mengambil gaji para pekerja. Dia berkata: Pekan ini saya memiliki permohonan Kepada anda. Kalau anda berjanji akan memenuhinya, maka akan saya utarakan. Saya berkata: Katakanlah. Dia berkata: Saya akan mengatakan jika anda berjanji akan memenuhinya. Saya berkata: Tuan Akbar yang terhormat, jika saya mampu melaksanakannya, akan saya penuhi. Dia berkata: Anda mampu. Saya berkata: Katakanlah. Dia berkata: Selama anda tidak mengatakan, saya tidak akan menyampaikan. Saya memaksa dia untuk mengatakan. Dan ia memaksaku untuk berjanji.

Pada akhirnya saya berkata: Katakanlan. Saya akan melaksanakannya. Ketika dia telah mengambil janji, dia berkata: Uang yang lima puluh Tuman yang diberi oleh Tuan itu untuk masjid, berikan padaku. Saya berkata: Tuan mandor, bapak Akbar… anda memperbarui kesedihanku. Karena setelah saya memberikan uang lima puluh tuma itu kepada seorang wanita, saya sangat sedih dan menyesal. Dan selama dua tahun setiap saya melihat uang kertas lima puluh tumanan, saya memperhatikannya. Barangkali uang lima puluh tumanan tersebut.

BACA JUGA:  IMAM ALI AS DAN SERIBU KEPENG EMAS

Saya berkata: Malam itu anda bercerita secara ringkas. Sekarang ceritakan peristiwanya secara baik dan rinci. Dia berkata: Ya… waktu itu kira-kira jam setengah empat udara sangat panas. Di tengah-tengah terik panas matahari saya sedang disibukkan dengan pekerjaanku. Dua, tiga orang pekerja juga sedang sibuk bekerja. Tiba-tiba saya melihat seorang laki-laki masuk melalui salah satu pintu dengan wajah bercahaya, sangat menarik dan berwibawa. Tanda-tanda kebesaran dan kedermawanan nampak pada dirinya. Pada saat beliau masuk, hati saya tidak lagi tertarik terhadap pekerjaanku, Saya ingin menatap dan memandangi tuan tersebut. Bapak itu melihat-lihat sekitar aula. Beliau melangkah ke depan dan memegangi papan dimana saya sedang bekerja di atasnya. Beliau mengeluarkan uang dari balik bajunya, dan berkata: Pak mandor, berikan uang ini kepada yang bangun masjid.

Saya berkata: Bapak yang membangun masjid tidak mau menerima uang dari orang lain. Kalau saya menerima dari anda, mungkin beliau tidak mau terima dan menjadi marah. Akan tetapi bapak itu berubah dan berkata: Saya katakan padamu ambillah. Saya akan menerimanya dan saya segera menerima uang tersebut dengan tangan yang berlumuran kapur. Kemudian bapak itu pergi keluar. Saya berkata pada diri sendiri: Kemana perginya itu bapak di udara yang panas ini. Kemudian saya memanggil salah seorang pekerja bernama Masyhadi Ali. Saya berkata: Pergi dan ikutilah bapak itu. Dan lihatlah kemana perginya, dengan siapa beliau datang dan beliau datang dengan apa? Masyhadi Ali pergi. Empat menit, lima menit, sepuluh menit, Masyhadi Ali tidak kembali. Akhirnya saya tidak fokus. Saya memanggil Masyhadi Ali. Ia berada di balik tiang dinding masjid. Saya bertanya: Mengapa kamu tidak kembali? Dia menjawab: Saya berdiri menyaksikan bapak itu. Saya berkata: Kemarilah. Ketka ia sampai, dia berkata: Bapak itu menundukkan kepala dan pergi. Saya bertanya: Bapak itu pergi dengan apa? Mobil? Dia menjawab: Tidak pak. Beliau tidak punya kendaraan apapun. Beliau menundukkan kepala dan pergi. Saya bertanya: Kamu mengapa berdiri saja? Dia menjawab: Saya berdiri menatap tuan itu.

BACA JUGA:  SELAMAT ATAS HARI LAHIR IMAM HASAN MUJTABA AS

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra