Saya memiliki sebuah majlis taklim di majlis ini saya mengumpulkan anak-anak muda. Saya mengajarkan mereka shalat dan membaca al-Quran. Ketiga anak muda ini adalah dari para pemuda peserta kajian itu. Saya merasa malu atas permohonan mereka itu. Sambil menundukkan kepala, saya berkata kepada mereka: Siapalah saya sehingga saya mesti ikut dan mendoakan kalian. Tetapi mereka memaksa. Dan saya merasa saya tidak boleh menolak permintaan mereka. Akhirnya sayapun setuju ikut dan tak lama kemudian saya naik mobil tersebut menuju kota suci Qom.
Di jalan lama Tehran dekat Qom, bangunan-bangunan yang ada sekarang belum ada. Hanya di sebelah kiri ada sebuah penginapan sederhana dan sudah rusak bernama Warung Kopi Ali Siyah. Tak jau dari tempat itu mobil mogok, di tempat dimana yang saat ini Haji Rajabiyan membangun masjid yang diberi nama masjid Imam Hasan Mujtaba as.
Tiga sekawan mikanik itu turun dari mobil. Ketiganya membuka penutup mesin mobil dan merekapun sibuk memperbaiki mobil. Saya meminta segelas air untuk membuang hajat dari salah satu dari mereka yang bernama Ali. Saya keluar dari mobil. Di tanah yang sekarang dibangun masjid saya melihat seorang sayid yang sangat tampan dan berkulit putih, alisnya tebal, giginya putih dan rapi dan ada tahi lalat di wajahnya. Dengan baju warna putih dan abaah tipis, alas kaki berwarna kuning dan serban berwarna hijau, seperti sorban orang-orang khurasan. Ia berdiri dan menggarisi tanah dengan tombak yang panjangnya kira-kira delapan atau sembilan meter. Saya berkata: pagi-pagi datang ke sini di pinggir jalan teman atau musuh bisa saja datang lewat. Dia memegang tombak!!
(Tuan Askari yang menyesali perkataannya sendiri meminta maaf dan berkata) Saya berkata: Nak…!! Waktu sangat berharga, kamu membawa tombak untuk apa?? Pergilah dan belajarlah. Kemudian saya pergi untuk buang air dan duduk. Ia memanggilku, Tuan Askari jangan duduk di sana. Disana sudah saya garis untuk Masjid.





Allahumma Shalli Ala Muhammad wa Aali Muhammad wa Ajjil Farojahum.