Katakan kepadaku, tadi saya hendak buang air di sini, mengapa tidak boleh? Sementara belum jadi masjid? Dia menjawab: Salah seorang dari keturunan Fathimah syahid di tempat ini. Yang saya garis persegi panjang itu adalah mihrob. Yang kamu lihat di sana itu adalah tempat tetesan-tetesan darah Syahid itu, dimana kaum mukminin akan mendirikan shalat. Kamu lihat di sana itu? Di sana akan menjadi kamar kecil. Dan di sini musuh-musuh Allah dan Rasulnya akan berjatuhan. Dia tetap berdiri dan saya membalikkan badan. Ia berkata, di sebelah sini akan menjadi husainian dan begitu ia menyebut nama Husein, air mata mengalir dari kedua matanya dan sayapu menangis tanpa kusadari.
Dia berkata: Di balik ini akan menjadi perpustakaan dan kamu yang akan memberi kitab-kitabnya. Saya berkata: Wahai putra Nabi! Saya akan memberi kitab dengan tiga syarat.
- Dengan syarat jika saya hidup. Dia menjawab: Insya Allah.
- Jika di sini terbangun Masjid. Dia menjawab: Barikallah.
- Semampu saya, walaupun hanya satu, saya akan memberikan kitab untuk melaksanakan perintahmu putra Nabi. Tapi saya harap pergilah belajar. Tuanku tersayang, jauhkanlah angan-angan ini dari kepalamu.
Dia tertawa. Sekali lagi ia mendekapku. Dan saya berkata: Anda tidak berkata siapa yang akan membangun tempat ini? Dia menjawab: Yadullah Fauqa Aidihim (surat Fath/10)
Saya berkata: Tuan, saya belajar sebatas ini, yaitu saya memahaminya bahwa: Tangan Tuhan di atas semua tangan-tangan? Dia menjawab: Pada akhirnya kamu akan melihat masjid sudah terbangun. Dan sampaikan salamku kepada orang yang membangunnya. Ia mendekapku kembali dan berkata: Semoga Tuhan memberimu kebaikan.




Allahumma Shalli Ala Muhammad wa Aali Muhammad wa Ajjil Farojahum.