KISAH MASJID IMAM HASAN MUJTABA as

Saya tidak paham dari mana ia mengenalku. Dan sayapun mematuhinya laksana anak kecil yang patuh terhadap yang lebih tua. Saya menjawab: Baiklah. Dan saya berdiri. Dia berkata: Pergilah ke balik ketinggian itu. Saya pergi ke tempat yang ditunjuknya. Saya berkata pada diri sendiri. Sebentar lagi saya akan menasehatinya. Saya berkata kepadanya: Tuan, Sayid putra Rasulullah, pergilah belajar. Saya menyiapkan tiga pertanyaan untuknya:

  • Kamu akan membangun masjid ini untuk jin atau malaikat, kamu keluar dari qom sejauh dua farsyakh. Kamu membuat sketsa dibawah terik matahari, tidak belajar, apakah kamu seorang arsitek?
  • Di sina belum jadi masjid, mengapa saya tidak boleh buang hajat disana?
  • Di masjid yang akan kamu bangun, yang mendirikan shalat jin ataukah malaikat?

Peryanyaan-pertanyaan ini saya menyimpannya di dalam hatiku dan maju mendekatinya serta mengucap salam kepadanya. Ia mengucap salam pertama kali. Kemudian menancapkan tombaknya ke tanah dan memelukku. Tangannya putih dan lembut. Di benakku juga ada niatan akan bercanda dengannya. Sebagaimana kebiasaan saya di Tehran jika ada Seorang sayid nakal saya selalu berkata: memangnya hari Rabu? Saya akan berkata: bukan hari Rabu, tapi hari Kamis kamu keluar dibawah terik matahari. Belum sempat saya berkata. Dia tersenyum dan berkata: Hari Kamis, bukan hari Rabu lalu ia berkata kepadaku: katakanlah tiga pertanyaan yang ada di dalam hatimu. Saya tidak paham tanpa aku katakan ia mengetahui isi hatiku.  Saya berkata: Sayid, putra Rasulullah! Kamu meninggalkan pelajaranmu, pagi-pagi buta kamu datang ke tepi jalan, tidak tahukan kamu waktu sangat berharga dan akan cepat bergulir laksana bola. Tombak tidak ada gunanya. Dan siapa saja baik orang baik atau jahat bisa datang dan pergi. Pergilah dan belajarlah!

BACA JUGA:  KISAH AWAL MULA PENCIPTAAN FATHIMAH

Dia tertawa dan menundukkan kepala dan berkata: Saya sedang membuat sketsa masjid.

Saya berkata: Untuk Jin atau Malaikat? Dia berkata: Untuk anak Adam (manusia). Di sini akan padat penduduk.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra