KISAH MASJID IMAM HASAN MUJTABA as

Saya pergi dan sampai di tepi jalan saya melihat mobil sudah menyala. Saya bertanya: Apa yang terjadi? Mereka berkata: Kami meletakkan sebatang korek api di bawah kabel ini. Begitu anda datang, mobil menyala. Mereka bertanya: Anda berbicara dengan siapa dibawah sinar matahari? Saya menjawab: Memangnya kalian tidak melihat Sayid yang sebegitu besar dengan tombak sepanjang sepuluh meter ditangan? Saya berbincang-bincang dengannya. Mereka berkata: Sayid yang mana? Saya membalikkan badan dan saya lihat Sayid itu tidak ada. Tanah seperti telapak tangan datar, tidak ada ketinggian ataupun tebing. Tapi tak ada seorangpun???

Saya gemetar. Saya masuk mobil dan duduk. Saya diam dan tidak berkata-kata lagi dengan mereka. Saya sampai ke haram hadhrat Makshumah as dan saya tidak sadar bagaimana saya melaksanakan shalat dhuhur dan ashar. Pada akhirnya kami sampai di Jamkaron. Kami makan siang, melakukan shalat, saya bingung. Teman-teman bertanya kepadaku. Dan saya tidak bisa menjawab mereka.

Di Jamkaron di sebelahku duduk seorang tua dan di sebalah lainnya seorang anak muda dan saya di tengah-tengah mereka. Saya menangis dan merintih. Saya melakukan shalat masjid Jamkaron. Setelah shalat saya hendak bersujud untuk membaca shalawat. Saya melihat seorang sayid yang semerbak harum dan berkata kepadaku: Tuan Askari, assalamu alaikum. Lalu ia duduk di sebelahku.

Nada suaranya persis nada suara sayid yang pagi hari. Dia menashehatiku dan berkata. Saya bersujud dan membaca dzikir shalawat. Hatiku ada bersama tuan sayid itu. Saya sedang sujud. Saya berkata dalam hati, saya akan bangkit dari sujud dan menanyakan kepada sayid itu anda berasal dari mana dan dari mana ia mengenalku? Lalu saya bangkit dari sujud. Tetapi saya melihat sayid itu tidak ada.

BACA JUGA:  IMAM ALI AS DI DALAM AL QUR-AN

Saya bertanya kepada laki-laki tua: Tuan yang tadi berbicara denganku pergi kemana? Tuan, anda tidak melihat dia? Dia menjawab: Tidak, saya tidak melihatnya. Saya bertanya kepada anak muda, diapun tidak melihatnya. Tiba-tiba badan saya bergetar seperti gempa. Saya menyadari bahwa beliau adalah imam Mahdi afs. Saya tidak sadarkan diri. Teman-teman membawaku dan menyiramkan air di kepala dan wajahku. Mereka berkata: Apa yang telah terjadi? Ringkasnya, kami melaksanakan shalat dan segera kembali ke Tehran.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra