PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM RIDHA AS DAN SEBAB-SEBABNYA

PERISTIWA KESYAHIDAN IMAM RIDHA AS DAN SEBAB-SEBABNYA

Makmun berkata kepada Muhammad bin Jakfar bin Muhammad yang datang setelah mendapatkat jaminan keamanan dari Makmun: pergilah ke tengah-tengah masyarakat dan umumkan kepada mereka bahwa jenazah imam Ridha as tidak keluar hari ini. (dan upacara pemakanan ditunda). Makmun hawatir jika Jenazah dibawa keluar, akan terjadi keributan.

Muhammad bin Jakfar pergi ke tengah-tengah masyarakat dan berkata: “Bubarlah kalian, karena Jenazah imam Ridha as hari ini tidak akan dikeluarkan.”

Masyarakat pun bubar, mereka memandikan jenazah imam Ridha as pada malam hari dan kemudian dimakamkan.[6]

WASIAT IMAM RIDHA AS KEPADA HARTSAMAH BIN A’YAN

Saiyid Syiblanji di dalam kitab Nurul Abshar menukil dari Hartsamah bin A’yan yang merupakan pembantu Khalifah (Makmun) dan bertanggung jawab membantu imam Ridha as, sebagai berikut: Pada suatu hari tuanku imam Ridha as memanggilku dan berkata: “Wahai Hartsamah, saya akan mengatakan sebuah rahasia kepadamu dimana selama aku hidup, anda tidak boleh mengatakannya kepada orang lain. Dan jika anda membongkar rahasia itu pada saat aku masih hidup, maka di sisi Tuhan, anda akan menjadi musuhku.” Saya bersumpah bahwa saya akan menjaga dan menyimpan serta tidak akan mengatakan rahasia itu kepada siapapun selama beliau hidup.

Imam Ridha as berkata kepadaku: “Ketahuilah wahai Hartsamah, kematianku sudah dekat. Dan saya akan segera bergabung dengan ayah-ayahku dan kakek-kakekku. Dan takdir kehidupanku akan berakhir. Mereka akan memberiku anggur dan delima tumbuk, dan aku akan meninggal karena hal itu. Kemudian Khalifah (Makmun) memutuskan untuk menguburku di belakan makam ayahnya (Harun). Namun Tuhan tidak akan memberi kekuatan kepadanya untuk melakukan hal tersebut. Dan tanah bagi mereka akan menjadi sedemikian keras sehingga cangkul dan peralatan lainnya tidak akan berfungsi. Dan orang-orang tidak akan memiliki kekuatan untuk menggali tempat itu. Wahai Hartsamah, ketahuilah bahwa tempat pemakamanku di fulan bagian dan lahat fulan (arah kiblat).” Beliau menentukan tempat tersebut kemudian beliau berkata: “Ketika aku meninggal dunia, mereka memandikanku dan mengkafaniku. Beritahu kepada Makmun tentang apa yang telah aku sampaikan kepadamu. Supaya dia mengetahui tentang diriku. Ketika ia meletakkan jenazahku di keranda dan Makmun hendak melaksanakan shalat jenazah atas Jenazahku, katakan kepadanya untuk tidak menshalatiku. Dan tunggulah beberapa saat sampai datang seorang laki-laki Arab yang kepala dan wajahnya ditutup kain, menunggang seekor unta betina datang dengan kencang dari arah padang pasir. Kemudian dia mendudukkan untanya dan ia turun dari unta itu. Dan ia akan melaksanakan Shalat atas jenazahku. Dan anda ikutlah shalat bersamanya. Dan anda galilah sedikit tanah, anda akan menemukan liang lahat yang yang tertutup dimana di dalamnya terdapat air berwarna putih. Ketika anda membuka kuburan itu, air-air itu akan meresap ke dalam tanah. Disitulah tempat pemakamanku. Dan kuburkan saya di tempat tersebut.”

BACA JUGA:  PERISTIWA GHADIR KHUM

Hartsamah mengatakan: “Seluruh apa yang disampaikan oleh imam Ridha as terjadi.”

IMAM JAWAD AS DI PEMAKAMAN SANG AYAH

Di dalam kitab Dalailu Himyari dinukil dari Mu’ammar bin Khallad: Imam Jawad as (di Madinah) berkata kepadaku: “Wahai Mu’ammar, naiklah. Saya bertanya: Anda hendak pergi kemana?”

Imam menjawab: Sebagaimana telah kukatakan, naiklah. Maka sayapun naik dan saya pergi bersama Imam as, hingga kami sampai di suatu padang pasir atau suatu kawasan yang datar. Imam Jawad as berkata: berhenti dan turunlah di tempat ini. Saya berdiri sehingga beliau pergi dan kembali setelah beberapa lama. Saya berkata: Saya menjadi tebusan anda. Anda pergi kemana?” Imam Jawad as menjawab: “Saat ini ayahku berada di Khurasan, dan aku telah menguburkannya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra