Amirul mukminin as di dalam salah satu khutbahnya menjelaskan masalah ini yang mengatakan:
وَلَقَدْ قُبِضَ رَسُولُ اللهِ (صلى الله عليه وآله وسلم) وَإِنَّ رَأْسَهُ لَعَلَى صَدْرِي. … وَلَقَدْ وُلِّيتُ غُسْلَهُ (صلى الله عليه وآله وسلم) وَالْمَلاَئِكُةُ أَعْوَانِي[12]
“Rasulullah saww meninggal dalam keadaan kepalanya berada di dadaku… Dan aku memandikannya saww dalam keadaan para malaikat membantuku.”
Sekelompok ahli hadits menukil bahwa ungkapan terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah saww pada detik-detik terakhir hidupnya adalah kalimat: (لا، مع الرفيق الأعلى) Sepertinya malaikat wahyu pada saat Rasulullah sedang nazak atau sakaratul maut memberi pilihan Nabi ingin sembuh dan kembali lagi kedunia fana ini atau utusan Tuhan akan mencabut rohnya dan membawanya ke alam lain. Dan dengan ungkapan tersebut di atas beliau menyampaikan kepada utusan Tuhan bahwa beliau ingin pergi kealam lain dan ingin bersama orang-orang yang telah diisyaratkan di dalam ayat berikut:
فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para Nabi, para pecinta kebenaran, dan orang-orang shaleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”[13] Rasulullah saww mengucapkan kalimat ini dan kemudian kedua mata dan kedua bibirnya tertutup.[14]
HARI WAFAT
Jiwa suci dan agung utusan Tuhan itu terbang ke alam keabadian pada pertengahan hari senin pada tanggal 28 Shafar. Kemudian jasad Nabi saww ditutup dengan sehelai kain Yamani.[15] Untuk beberapa saat jenazah Nabi saww diletakkan di sudut kamar. Jerit dan tangisan para wanita dan keluarga dekat Nabi saww, meyakinkan orang-orang yang berada di luar rumah bahwa Nabi saww telah mangkat. Tidak berselang lama berita kepergian Rasulullah saww telah tersebar di seluruh pelosok kota.
Khalifah ke dua dengan beberapa alasan berteriak di luar rumah bahwa Nabi saww tidak meninggal dan seperti Musa as beliau pergi menjumpai Tuhannya, dan ia sangat menekankan tentang masalah ini. Dan hampir saja beberapa orang mempercayainya. Pada saat itu seorang shahabat Nabi saww[16] membacakan ayat berikut kepadanya:
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ
“Dan Muhammad hanyalah seorang Nabi; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” Begitu mendengar ayat ini, ia tidak lagi memaksakan pendapatnya dan menjadi tenang. [17]
Amirul mukminin as memandikan jenazah Nabi saww dan mengkafaninya karena Rasulullah saww telah bersabda: “Saya akan dimandikan oleh orang terdekat”[18] Dan orang tersebut tidak lain selain imam Ali as.
Kemudian imam Ali as membuka wajahnya dan dalam keadaan air mata membanjiri kedua matanya, beliau mengucapkan kalimat berikut: “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Dengan kepergianmu, maka akar kenabian dan wahyu Tuhan serta berita-berita langit telah terputus -dimana tidak akan pernah terputus dengan meninggalnya siapapun- Jika buka karena anda telah menganjurkan kepada kami untuk bersabar dalam setiap kesulitan, maka kami akan sebegitu menumpahkan air mata dalam kepergian anda sehingga terbentuk mata air air mata. Namun kesedihan dan duka kami dalam hal ini akan berketerusan dan bersedih sebatas ini di jalanmu, sangatlah sedikit. Dan tidak ada jalan lain selain ini. Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Ingatlah kepada kami di alam yang lain. Dan tempatkan kami di dalam ingatan anda.”[19]




