Ibnu Abas setelah menukil peristiwa ini mengatakan: “Musibah terbesar bagi Islam adalah perbedaan pandangan dan perdebatan sebagian shahabat telah melarang Nabi untuk menuliskan apa-apa yang beliau inginkan.”[3]
Apakah Tujuan Dari Surat Washiat?
Seseorang mungkin akan bertanya: Surat wasiat yang akan ditulis Nabi saww tentang masalah apa? Jawaban dari pertanyaan ini adalah sudah jelas. Karena tujuan Rasulullah saww tidak ada lain selain memperkokoh washi-washi dan kekhalifahan Amirul Mukminin dan kelaziman mengikuti Ahlulbaitnya. Dan masalah ini dapat dipahami dengan memperhatikan “hadits Tsaqalain” yang diakui dan diterima oleh para ahli hadits dari Ahlusunnah dan Syi’ah. Karena tentang surat washiat yang hendak beliau tuliskan, Nabi bersabda sebagai berikut: “Saya akan menuliskan surat washiat ini supaya setelahku, kalian tidak akan tersesat. Dan di dalam hadits Tsaqalain juga kalimatnya persis kalimat ini. Dan alasan mengikuti Kitab dan Ahlulbaitnya adalah mengikuti dua hal berat ini mengakibatkan seseorang tidak akan pernah tersesat. Dan inilah teks hadits Tsaqalain tersebut:
إني تارك فيكم الثقلين، أما إن تمسكتم بهما لن تضلوا: كتاب الله وعترتي أهل بيتي، فإنهما لن يفترقا حتى يردا علي الحوض
“Saya meninggalkan dua hal yang sangat berharga diantara kalian. Selama kalian mengikuti keduanya, kalian tidak akan pernah tersesat: Kitabullah dak keluargaku. Sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sampai mereka menemuiku di telaga”
Apakah dengan memperhatikan dua riwayat ini dan persamaan diantara keduanya, tidak bisa disimpulkan secara pasti bahwa tujuan Nabi saww dari meminta pena dan kertas untuk menuliskan maksud dari hadits Tsaqalain? Dan atau lebih tinggi dari dari apa yang telah disampaikan di hadits Staqalain. Dimana hal tersebut tak lain adalah memperkuat wilayah dan washinya langsung tanpa jedah waktu. Dimana telah diumumkan secara lisan pada tanggal delapan belas Dzulhijjah di titik perpisahan para jamah haji dari Iraq, Mesir, dan Hijas yang dikenal dengan (Ghadir Khum).
Perpisahan Terahir Dengan Para Shahabat
Rasulullah saww selama menderita sakit kadang kala pergi ke masjid dan melaksanakan shalat dengan masyarakat dan kadang kala beliau juga menyampaikan dan membahas suatu masalah.
Pada suatu hari di masa beliau menderita sakit, Rasulullah saww memasuki masjid dalam keadaan kepalanya diikat dengan sehelai kain dan imam Ali as dan Fadhil bin Abas membopongnya dan kakinya diseret di atas tanah. Kemudian beliau duduk di atas mimbar dan berpidato. Rasulullah saww bersabda: Aiyuhannas, telah tiba saatnya saya pergi dari sisi kalian. Jika aku berjanji sesuatu kepada seseorang, saya siap melaksanakannya. Dan barang siapa memiliki tagihan kepadaku? Maka katakanlah, maka aku akan membayarnya. Pada kesempatan itu seorang laki-laki bangkit dan berkata: “Beberapa waktu yang lalu anda berjanji kepadaku, jika aku menikah anda akan membantuku dengan sejumlah uang.” Rasulullah saww segera memerintahkan kepada Fadhil untuk memberinya sejumlah uang yang telah dijanjikannya. Kemudian Nabi saww turun dari atas mimbar dan kembali ke rumah. Kemudian pada hari Jumat, hari dimana sebelum beliau wafat, Rasulullah saww kembali pergi ke Masjid. Dan mulai berpidato. Di dalam pidatonya Rasulullah saww bersabda: “ Barang siapa memiliki hak ke atas diriku, berdiri dan katakanlah. Karena qishas di dunia ini lebih mudah dari qishas di hari kebangkitan.[4]
Pada kesempatan ini Suwadah bin Qeis berdiri dan berkata: Ketika kembali dari perang Thaif, anda sedang menunggang seekor unta. Anda mengangkat cambuk dan mencambuk binatang tunggangan anda. Kebetulan cambuk tersebut mengenai perut saya. Sekarang saya telah siap untuk mengqishas.
Permintaan Rasulullah bukan sekedar basa-basi akhlaq, melainkan Rasulullah betul-betul ingin membayar hak-hak orang, walaupun berupa hak yang semacam ini yang tidak mendapat perhatian masyarakat.[5] Rasulullah saww memerintahkan untuk mengambil cambuk tersebut dari rumah. Kemudian beliau mengangkat kemejanya supaya Suadah mengqishas. Shahabat-shahabat Nabi dengan hati pedih dan mata berlinang air mata berteriak dan merintih menunggu peristiwa ini berakhir sampai dimana? Apakah Suadah betul-betul akan mengqishas Nabi saww? Tiba-tiba mereka melihat Suadah tanpa ihtiyar mencium perut dan dada Nabi saww. Pada saat itu Rasulullah saww berdoa untuk Suwadah dan bersabda: Ya Allah, maafkanlah Suwadah sebagaimana ia telah memaafkan nabiMu.[6]
DETIK-DETIK TERAKHIR HIDUP NABI SAWW
Ketegangan dan kekhawatiran menyelimuti seluruh kota Madinah. Para shahabat Nabi saww dengan mata berlinangan air mata dan hati sesak dipenuhi kesedihan, mengelilingi rumah Nabi saww untuk mengetahui perkembangan sakitnya Nabi saww. Berita-berita dari dalam rumah yang sampai ke luar rumah menerangkan bahwa sakit Nabi saww semakin parah dan semua harapan untuk sembuh kembali telah lenyap dan diyakini bahwa sisa-sisa hidup Nabi saww tidak lebih hanya tinggal beberapa saat saja.





