Kecintaan Rasulullah saww terhadap anak satu-satunya adalah salah satu jelmaan tertinggi emosi dan perasaan kemanusiaan. Selama ini Rasulullah saww tidak pernah melakukan perjalanan tanpa berpamitan kepada putrinya. Dan ketika kembali dari perjalanan (safar) pertama kali sebelum yang lain-lain beliau selalu menjumpai putrinya terlebih dahulu. Beliau menghormati dan memuliakannya di hadapan istri-istrinya. Rasulullah saww bersabda kepada para shahabatnya: “Fathimah adalah belahan jiwaku, kebahagiaannya adalah kebahagiaanku, dan marahnya adalah marahku.”[8]
Melihat Zahra as, mengingatkannya kepada wanita yang paling dikasihinya yaitu hadhrat Khadijah as yang telah meleburkan diri di dalam kesulitan yang luar biasa, menapaki jalan dan tujuan tujuan suci suaminya dan menyerahkan seluruh harta dan kekayaannya di jalan ini.
Seluruh hari-hari dimana Rasulullah saww berbaring sakit, Fathimah as duduk di samping tempat tidur Nabi asww dan tak sekejap pun hadhrat Fathimah jauh darinya. Tiba-tiba Rasulullah saww memberi isyarat kepada putrinya bahwa ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Putri Nabi sedikit membungkukkan badannya dan mendekatkan telinganya kepada Nabi saww. Kemudian Nabi saww membisikkan sesuatu kepada putrinya. Orang-orang yang berada di sisi tempat tidur Nabi saww, tidak mengetahui isi pembicaraan mereka. Ketika pembicaraan Nabi saww selesai, hadhrat Fathimah menangis tersedu-sedu. Dan air mata membanjiri kedua matanya. Namun tak lama kemudian, Rasulullah saww kembali memberi isyarat kepada putrinya dan Nabi saww membisikkan sesuatu kepadanya. Kali ini Fathimah mengangkat kepalanya dengan wajah ceria dan air muka penuh tawa dan bibir tersenyum. Terjadinya dua keadaan yang bertentangan dalam waktu yang berdekatan membuat heran orang-orang yang hadir di tempat tersebut. Mereka meminta kepada putri Nabi saww untuk menceritakan apa yang telah dikatakan oleh Nabi saww, dan menjelaskan kepada mereka timbulnya keadaan yang berbeda tersebut. Hadhrat Zahra mengatakan: “Saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah saww.”
Setelah Rasulullah saww wafat, atas desakan Aisyah, hadhrat Fathimah menceritakan peristiwa itu dan beliau as mengatakan: “Yang pertama ayahku memberitahuku tentang kematiannya. Dan mengatakan bahwa aku tidak akan sembuh dari sakit ini. Oleh karena itu aku meratap dan menangis. Namun kembali beliau bersabda kepadaku bahwa kamu adalah orang pertama dari Ahlulbait ku yang akan menjumpai ku. Dan berita itu telah membuatku senang dan bergembira, karena saya tahu bahwa tak lama lagi aku akan menjumpai ayahku.”[9]
Pada detik-detik terakhir dari hidupnya, beliau saww membuka kedua matanya dan bersabda: “Panggilkan saudaraku supaya datang dan duduk di samping pembaringan ku.” Semua mengetahui bahwa maksudnya adalah imam Ali as. Imam Ali as duduk di samping pembaringan Nabi saww. Namun ia merasa bahwa Nabi saww ingin bangkit dari tidur. Imam Ali as membangunkan Nabi dari tidur (dari posisi berbaring) dan menyandarkan beliau di dadanya.[10]
Tidak begitu lama kemudia timbul tanda-tanda Ihtidhar (sakaratul maut) pada diri Nabi saww. Seseorang bertanya kepada ibnu Abas: Rasulullah saww meninggal di dalam pelukan siapa? Ibnu Abbas menjawab: Rasulullah saww meninggal dalam keadaan kepalanya berada di pelukan Ali as. Orang tersebut menambahkan: “Aisyah mengatakan bahwa Rasulullah meninggal dalam keadaan kepalanya berada di pelukannya.” Ibnu Abas menolak perkataannya dan mengatakan: “Rasulullah saww meninggal di dalam pelukan Ali. Dan Ali serta saudaraku Fadhil memandikan jenazah beliau saww.”[11]





