SEBUAH SURAT YANG TAK PERNAH DITULIS

SEBUAH SURAT YANG TAK PERNAH DITULIS

Sebagian dari shahabat-shahabat Nabi saww ingin menziarahi pemimpinnya yang mulia dari dekat. Namu keseriusan sakit Nabi tidak mengijinkan. Di dalam ruangan dimana beliau dibaringkan tidak ada seorangpun yang keluar masuk kecuali anggota keluarganya.

Putri mulia Nabi saww satu-satunya hadhrat Fathimah as duduk di samping pembaringan ayahanda tercintanya dan memandangi wajahnya yang penuh cahaya. Beliau menyaksikan keringat kematian bagaikan butiran-butiran mutiara mengalir dari dahi dan wajahnya yang mulia.

Hadhrat Zahra as dengan dada sesak dan kedua matanya berlinangan air mata serta tenggorokan yang serak menggumamkan sebuah sya’ir yang ditulis oleh Abu Thalib untuk Rasulullah saww:

وابيض يستسقى الغمام بوجهه         ثمال ايتامي عصمة للارامل:

Wajah yang bercahaya yang demi menghormatinya, Hujan meminta kepada awan, seseorang yang menjadi tempat berlindung anak-anak yatim dan menjadi pelindung wanita-wanita janda.

Dalam pada itu Rasulullah saww membuka kedua matanya dan dengan suara pelan dan perlahan bersabda kepada putrinya: “ Ini adalah sya’ir yang dibuat oleh Abu Thalib untukku. Namun lebih baik kamu membaca ayat ini sebagai penggantinya:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang [murtad]? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikitpun. Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”[7]

Rasulullah saww Berbincang-Bincang Dengan Putrinya

Pengalaman menunjukkan bahwa perasaan tokoh-tokoh besar, karena banyaknya pikiran dan aktifitas, kurang menyala terhadap anak-anaknya. Karena tujuan besar telah menyita pikiran mereka dimana tida ada lagi kesempatan untuk mengembangkan dan menunjukkan perasaannya terhadap anak-anak mereka. Namu bagi tokoh-tokoh dan pemimpin spiritual, kaidah ini merupakan pengecualian. Mereka dalam pada memiliki tujuan terbesar dan ide-ide serta pikiran-pikiran yang cemerlang tentang dunia begitu juga kesibukan yang semakin padat, juga memiliki jiwa yang besar dan luas, dimana memiliki kecenderungan kepada salah satunya, tidak membuat lengah terhadap yang lainnya.

BACA JUGA:  KISAH AWAL MULA PENCIPTAAN FATHIMAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra