KISAH AWAL MULA PENCIPTAAN FATHIMAH

KISAH AWAL MULA PENCIPTAAN FATHIMAH

Hadhrat Fathimah as adalah ibu para imam makshum as dan peninggalan Rasulullah saw. Keturunan Rasulullah saw sampai hari kiamat senantiasa berasal darinya. Beliau adalah pemimpin para Wanita kedua alam dari masa lalu sampai masa yang akan datang. Beliau adalah salah seorang wanita yang akan memasuki padang masyar dengan tunggangan. Dan kitab “Mushaf” yang berada di tangan para imam as adalah miliknya.

Hadhrat Fathimah dalam berbicara dan berkata-kata adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah saw. Dan Cara hidupnya sama seperti kehidupan Rasulullah saw. Dan cara berjalannya sama dengan cara berjalan Rasulullah saw. Ketika beliau datang menghadap Rasulullah saw, beliau saw menyambutnya dengan penuh penghormatan, beliau mencium tangan hadhrat Zahra as dan beliau saw mempersilahkannya duduk di tempat duduknya. Setiap kali Rasulullah saw datang kepada hadhrat Fathimah as, beliau as bangkit berdiri dan menyambut kedatangan Rasulullah saw dan mencium tangannya saw. Rasulullah saw sering mencium hadhrat Fathimah as. Setiap kali beliau saw rindu aroma surga, Rasulullah saw menciumnya dan bersabda:

فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي مَنْ شَرَّهَا فَقَدْ شَرَّنِي وَمَنْ سَائَها فَقَدْ سَائَنِي فَاطِمَةُ اَعَزُّ النَاسِ إِلَيَّ

“Fathimah as adalah belahan jiwaku, barang siapa membuatnya senang makai a telah membuatku senang, dan barang siapa yang menyakitinya, makai a telah menyakitiku, Fathimah adalah orang termulya di sisiku.”

Ungkapan-ungkapan lainnya yang menunjukkan dalamnya rasa cinta Rasulullah saw kepada Fathimah as.[3]

Marhum Syekh Kulaini meriwayatkan dari Muhammad bin Sanan yang mengatakan: “Suatu Ketika saya berada Bersama imam Jawad as dan saya menanyakan kepada beliau as tentang masalah perbedaan yang terjadi dikalangan orang-orang Syi’ah. Imam as menjawab:

“Wahai Muhammad! Allah swt dalam keEsaanNya senantiasa Esa dan tidak ada sekutu bagiNya. Kemudian Allah swt menciptakan Muhammad saw, Ali as dan Fathimah as. Dan tiga orang ini (di alam cahaya) telah hidup ribuan tahun, Setelah itu Allah swt menciptakan semua keberadaan dan makhluk-makluk. Dan Muhammad saw,  Ali as serta Fathimah as dimintai kesaksian tentang penciptaan seluruh keberadaan itu. Dan melazimkan seluruh makhluk-makhluk untuk mentaati dan tunduk kepada mereka. Dan Allah swt menyerahkan segala urusan makhluk (keberadaan) kepada mereka (Muhammad saw, Ali as dan Fathimah as). Maka mereka akan menghalalkan apa-apa yang mereka kehendaki dan mengharamkan apa-apa yang mereka inginkan, dan mereka tidak kehendaki sesuatu apapun kecuali apa-apa yang dikehendaki oleh Allah swt. Kemudian imam Jawad as mengatakan:

BACA JUGA:  IMAM ALI AS DI DALAM AL QUR-AN

يَامُحَمّدُ هذِهِ الدِيَنَةُ مَنْ تَقَدَّمَهَا مَرَقُ، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا مَحَقَ وَمَنْ لَزِمَهَا لَحِقَ خُذهَا اِلَيكَ يَا مُحَمَّدُ

“Ya Muhammad! Inilah hakikat agama, barang siapa telah mendahuluinya, maka ia telah keluar dari agama. Dan barang siapa tertinggal darinya, makai a telah binasa. Dan barang siapa yang mensejajarkan dan menyelaraskan dirinya, maka ia akan sampai kepada yang haq. Wahai Muhammad, Pelajarikah perkataan ini dan ingat-ingatlah.”[4]

[1] – Ahli Kisa’ adalah berkumpulnya Rasulullah saw, imam Ali as, Hadhrat Fathimah as, imam Hasan as dan imam Husein as dibawah sebuah selimut dan malaikat Jibril menurunkan ayat Thathir (32 surat Ahzab) untuk menjelaskan kedudukan dan posisi mereka.

[2] – maksudnya adalah saling mendoakan dan mengutuk dengan para ulama Nasrani Najran. Berdasarkan masalah ini Allah swt akan mengadzab mereka yang berada dalam kebatilan. Sebagaimana yang dijelaskan dan termaktub di dalam surat aali ‘Imron ayat 61 yang dikenal dengan ayat MUbahalah.

[3] – Misalnya jika beliau saw memanggil Fathimah as, beliau bersabda: يَا حَبِيبَةَ اَبِيهَا   wahai kecintaan dan kesayangan ayahnya.

[4] – Sebagian orang memahami bahwa riwayat-riwayat semacam ini menunjukkah bahwa Allah swt menyerahkan peletakan hukum-hukum agama kepada Nabi saw dan para ma’shumin as. Maksudnya adalah mereka berdasarkan kemaslahatan dan ketiadaan maslahat yang mereka lihat bisa membuat aturan dan meletakkah kelima hukum agama yaitu (halal, haram, mubah, sunnah dan makruh).

Namun marhum Ayatollah al-‘Uzhmah Muhakkiq Bahbahani ra di dalam catatan kaki Rijalnya, keyakinan semacam ini dinisbahkan kepada Ghulat. Dengan demikian riwayat di atas harus dimaknai dan artikan sebagai berikut: Bahwasanya Muhammad saw, Ali as dan Fathimah as merupakan makhzan atau lumbung dan Gudang kehendak Allah swt. Apa yang telah diharamkan oleh Allah, maka mereka akan mengharamkannya, dan apa-apa yang dihalalkanNya, maka mereka akan menghalalkannya. Oleh karena itu di akhir riwayat di atas dikatakan: “وَلَنْ يَشَاؤُا إلّا أنْ يَشَآءَ الله” mereka tidak menghendaki sesuatu apapun kecuali yang dikehendaki Allah swt.

BACA JUGA:  PERISTIWA KELAHIRAN AGUNG ALI AS DI DALAM KA’BAH

Diterjemahkan dari kitab ANWARUL BAHIYAH karya SYEKH ABBAS QOMI (Negahi be zendegi chahardah makshum-Muhammad Muhammadi Isytihardi, hal 54-62)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Copyright © 2019, Mulla Shadra Hasan Abu Ammar ra